Dua koper berjejer rapi di ambang pintu, siap untuk dibawa. Udara menjelang tengah hari begitu lembab dan panas, keringatku mengalir deras. Kulihat ibuku sudah duduk di ruang tamu, memakai baju warna cerah lengkap dengan lipstick merah menyala ciri khasnya. Papa sibuk mondar mandir, seolah dengan berbuat seperti itu bisa menurunkan suhu panas di luar.
Aku kembali mengecek isi tasku, memastikan tiket, paspor dan barang penting lainnya bisa kuraih dengan gampang nantinya. Jari-jariku kembali menyentuh telepon selular menatap tanggal yang tertera di layar. Tanggal 10 Agustus 2006. Jantungku berdegup tak beraturan, rasanya tak tahu lagi bagaimana mengusir rasa gugup ini. Keputusan untuk pindah dan hidup di sebuah negara lain adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah kubuat di hidup. Meninggalkan orang tua dan saudara-saudara di kota kelahiran, bertolak untuk memulai lembaran baru.
Di airport sesaat sebelum bertolak pergi, kedua mata ibuku berkaca-kaca. Berat hatiku melihatnya hampir menangis. Papa terlihat lebih tenang, mungkin beliau tidak sabar ingin melihatku belajar hidup lebih mandiri jauh di perantauan.
“Aku pergi dulu ya, Bu.”
Emosi sudah begitu meluap sehingga susah buatku menyusun kata-kata. Hanya satu kalimat berpamitan tadi yang kuharap bisa memuat seluruh perasaan hormat dan sedihku. Kepalaku dipenuhi banyak kebingungan namun juga penuh rasa harapan. Sungguh sulit untuk menjabarkan rentetan rasa lewat kata.
Aku bertolak, berjalan menuju gate keberangkatan. Udara panas lembab tadi tak lagi mengganggu, berganti dengan turunnya suhu udara di kabin pesawat. Perjalanan transit ke Kuala Lumpur terasa sangat singkat. Penerbangan ke Zurich baru akan berangkat menjelang tengah malam.
Walau ini bukan kali pertamaku berangkat ke Eropa, aku selalu suka memilih menghabiskan berjam-jam untuk transit di KLIA, sebab aku tak suka transit dengan terburu-buru. Karena itu walau kadang merasa bosan, aku menghabiskan waktu dengan membaca dan berpindah-pindah lokasi sambil stretching.
Pesawat berangkat sekitar pukul 23:00 waktu Malaysia, perjalanan yang harus kutempuh masih sekitar 12 jam. Jantungku berdetak kencang membayangkan hidup macam apa yang akan kualami di sana. Lagu “Time to Say Goodbye” dari Andrea Bocelli dan Sarah Brightman mengiringi suara gemuruh pesawat saat take-off. Di saat bersamaan aku juga tak merasa takut sebab saat ini aku sedang menjemput masa depan. Memulai sesuatu dari awal memang terasa lebih gampang diucapkan daripada diterapkan dengan baik, namun bukan berarti juga hal itu mustahil. Awal dari perjalanan adalah sebuah langkah, sekecil apapun itu.
Kututup novel yang tadi kubaca lalu menarik selimut, berusaha tidur.
Bis bald, Schweiz!*
*) See you soon, Switzerland!