*) sekolah bahasa
Bulan ini aku kembali ke sekolah. Sebenarnya sudah sejak tahun 2005 aku memulai belajar bahasa Jerman di Zurich dan mengikuti kelas intensif selama tiga bulan. Saat itu aku memulai belajar bahasa Jerman dari tingkat paling dasar, bahkan dari pelafalan alfabet.
Aku sudah mulai belajar bahasa Jerman pertama kali sejak masa kuliah di Medan. Saat itu aku dapat mata kuliah Bahasa Jerman untuk dua semester. Kalau boleh beropini jujur, dua semester itu bukanlah waktu yang cukup untuk mengerti tata bahasa dasar. Terlebih lagi dosenku juga terlihat tidak serius mengajar, walaupun beliau mengaku ada keturunan darah Jerman. Terkadang aku cukup kesal mengikuti kelasnya, sebab dosenku terlihat lebih suka nostalgia tentang masa kejayaannya saat menjadi dosen dan setengah aktivis.
Aku merasa mengikuti perkuliahannya sungguh buang waktu. Ilmu bahasa Jerman tak banyak diajarkan, walau nilai ujian yang bagus bisa kudapat dengan cukup mudah sebab soalnya memang gampang semua. Bahkan beberapa teman kuliahku langganan bertanya padaku saat ujian. Iya, menyontek jawaban dariku saat ujian dan karena cuma mata kuliah yang cukup gampang buatku jadi aku tidak pelit kasi contekan. Rasanya mata kuliah Bahasa Jerman seperti tidak ada tantangan.
Karena itu mengulang pelajaran dari level awal di Zurich adalah keputusan tepat. Setelah sempat mengikuti kelas sekitar tiga bulan di tahun lalu, aku hanya perlu sedikit mengulang level kelas di tahun ini. Tahun lalu aku diajar oleh dua orang guru yang berbeda. Guru pertama seorang wanita dan dia sedikit galak. Aku cukup kaget tidak menyangka akan dapat guru seperti itu. Tapi guru sedikit galak tidak menyurutkan semangatku, sebab aku memang suka belajar bahasa asing. Guru keduaku lelaki, orangnya ramah sekali dan teratur. Cara menjelaskannya juga lumayan memotivasi kami semua.
Ada banyak temanku yang penasaran, bagaimana kelas bahasa Jerman yang kuikuti di Zurich, bahkan ada yang bertanya apakah guruku berbicara dengan bahasa Inggris. Jawabannya adalah para guru langsung berbahasa Jerman ke semua murid dari detik pertama mereka mengajar. Ya, rasanya seperti dilemparkan ke lautan luas. Awalnya bingung, tidak jarang aku sering bengong.
Tapi itulah namanya belajar bahasa. Ada proses bingung, proses mencerna, proses mencari tahu, proses berusaha menyusun kalimat sesuai tata bahasa hingga akhirnya memberanikan diri sampai di tahap lancar berbicara. Lalu kalau salah bicara?
Ya semua orang pasti bakal buat kesalahan dalam proses belajar. Aku tahu ada banyak orang yang merasa sungkan memulai belajar bahasa hanya karena takut salah berbicara. Untungnya aku bukanlah jenis orang seperti ini. Pada dasarnya kita juga sering salah menulis atau salah memakai kosa kata dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kalau berbuat kesalahan di bahasa ibu saja kita sering, bayangkan kesalahan yang bakal kita buat saat belajar bahasa asing. Jadi kenapa harus takut salah. Bertemu kesalahan dalam proses belajar adalah hal normal.
Kalau ditanya bagaimana rasanya mengikuti kelas, rasanya campur aduk dan pastinya lebih banyak rasa senangnya. Bisa bertemu banyak teman sekelas dari berbagai negara adalah hal yang seru. Sudah pasti tidak semua murid bisa berbahasa Inggris dan justru hal ini membuat keadaan kelas makin menarik untuk diikuti.
Tidak jarang kami berkomunikasi dengan gestur tangan, sebab beberapa guru membuat aturan melarang kami untuk membuka kamus saat belajar kecuali di beberapa saat tertentu. Semua murid dilatih untuk berusaha menemukan caranya sendiri berkomunikasi dengan bahasa Jerman. Kalau sudah terbentur dan tidak tahu lagi, guru akan memberikan kata atau kalimat dengan tata bahasa yang benar.
Sampai saat ini aku cukup bahagia mengikuti kelas ini. Lebih bahagia lagi karena aku tidak perlu lagi lelah mendengarkan cerita nostalgia dosen bahasa Jerman saat menjadi aktivis.