Pagi hari seperti tidak ada menawarkan apa-apa selain angin dingin menjelang musim gugur. Aku terbangun dari tempat tidur karena udara begitu kering dan membuatku ingin batuk. Udara musim gugur makin terasa lebih berat, seakan menekan dan membuat tenggorokanku tercekat.
Kelas bahasa Jerman akan dimulai pukul 09:00 nanti. Masih ada waktu untuk lebih merenggangkan badan sambil menguap. Sudah hampir sebulan hidup di kota Zurich dan aku merasa baik-baik saja. Berusaha membaurkan diri bersama sekitar 300.000 penduduk di sini. Aku belum merasakan rindu mendalam akan tanah air. Mungkin semangat untuk membangun hidup di sini agak meredupkan rasa rindu dan aku sama sekali tak merasa bersalah. Mungkin rasa rindu itu baru akan datang nanti, bertransformasi menjadi perasaan homesick.
Sebelum berangkat mataku tertuju ke kemasan spaghetti yang baru kemarin kubeli. Awalnya ingin kumasak untuk makan malam kemarin, tapi entah kenapa aku merasa mual. Pikiranku membayangkan spaghetti yang dimasak dengan saus bolognaise dan disantap bersama keju parmesan justru bikin aku ingin muntah. Kulirik kembali bungkusan itu, setengah menyesal telah membelinya.
Sebulan sudah berlalu.
Kemasan spaghetti itu masih tersimpan rapi di lemari dengan segel tertutup rapat. Aku masih juga belum menemukan jawaban kenapa aku tiba-tiba merasa tak selera memakannya. Sambil mengeringkan rambut dengan hair dryer kuperhatikan kulit kepalaku sambil tertegun. Kenapa kulit kepalaku begitu kering? Flaky.
Dengan perasaan panik aku memeriksa keadaan kulit kepalaku. Apa mungkin perubahan iklim yang bikin kulit kepalaku begini? Rasanya ingin menangis melihat kondisi kulit kepalaku.
Lalu tiba-tiba aku teringat spaghetti yang belum juga sanggup kumakan. Sudah sebulan ini aku sama sekali tak bisa makan spaghetti. Ada perasaan muak yang tak bisa kujelaskan. Ada rasa benci tanpa sebab.
Apa mungkin ini yang dinamakan culture shock? Walau di Medan aku cukup sering makan spaghetti, namun entah kenapa semua begitu berbeda di sini. Spaghetti memang bukan berasal dari Swiss tapi mungkin karena dikonsumsi oleh banyak orang sehingga kemanapun aku pergi aku sering melihat spaghetti dan ini bikin aku jadi mual. Aku melihat kembali kulit kepalaku yang terlihat kering, aku jadi terlihat seperti orang yang tidak merawat rambutku.
Mungkin ada banyak kerinduan untuk menyantap kembali masakan seperti sewaktu tinggal di Indonesia.
Mungkin aku masih belum bisa meyesuaikan diri.
Mungkin karena semua terasa begitu baru.
Mungkin saat ini aku sedang homesick.