Tanpa terasa sudah tahun 2007. Sudah empat bulan berlalu hidup di negara asing dan pertama kali tidak melewatkan tahun baru di tanah air. Sejujurnya aku sedikit bingung menjelaskan perasaanku. Ada perasaan senang juga sedih.
Aku senang bisa meninggalkan kota Medan, aku merasa gak bahagia tinggal di sana. Sama sekali gak bahagia dan semakin lama di sana perasaanku semakin terasing. Semakin merasa kota itu bukanlah tempat yang cocok untukku. Sekali lagi, ini hanya perasaan yang kurasakan, orang lain boleh berpikir dan merasakan hal yang berbeda dariku. Mungkin buat banyak orang Medan adalah kota tujuan, tapi bukan buatku.
Selain keluarga, aku tak punya sesuatu hal lain yang membuatku benar-benar rindu pulang. Hm, mungkin hanya sedikit teman-teman dan kuliner kota Medan. Cuma sedikit teman yang masih tersisa dan tidak keberatan berteman denganku, semua sibuk dengan hidup mereka masing -masing. Persahabatan masa sekolah ternyata bisa ditaklukkan dengan Prioritas dan To-Do List.
Bisa dibilang aku jarang bertemu dengan teman-teman, kecuali yang benar-benar akrab. Di saat banyak teman-temanku sibuk punya keinginan reuni, sepertinya cuma aku yang punya keinginan sebaliknya. Terkadang aku merasa lebih baik bila jarang berjumpa, aku merasa acara reuni itu gak begitu penting.
Makin hari aku makin merasa makin terpisah dengan kotaku.
Tidak ada yang salah dengan kota kelahiranku, hanya aku yang harus menyingkir dari situ.
Aku senang bisa bersekolah dan belajar lagi di Zurich. Mungkin karena kedua orang tuaku sudah beri restu penuh, jadi menjalaninya juga tanpa beban. Aku sedih tinggal jauh keluargaku, walau bukan berarti aku menangis setiap hari karena homesick. Perasaanku biasa saja, walau terkadang seperti ada yang kurang di hari-hariku. Di beberapa kesempatan aku pastinya mengingat keluarga lebih intense dari biasanya, seperti saat pergantian tahun seperti ini.
Satu-satunya yang agak khawatir pastinya ibuku. Mungkin setiap ibu seperti ini, selalu khawatir akan anaknya. Mungkin nanti sewaktu punya anak aku bakalan seperti ibuku. Meyisakan satu sudut di hati untuk semua rasa cemas buat anaknya. Rasanya mungkin seperti tidur dengan satu mata yang terbuka, karena ada anak-anak yang tinggal jauh darinya.
Papaku jauh lebih tenang, beliau memang paling bersemangat kalau ada anaknya yang mau merantau. Selalu ingin melihat kami semua bisa hidup mandiri, bisa meraih mimpi, mengembangkan diri dan luaskan cakrawala lewat pendidikan dan pekerjaan. Orang tuaku selalu bangga dengan kami semua, ini adalah salah suatu hal yang akan selalu kusyukuri.
Saat ini bisa dibilang aku juga belum tahu bagaimana hidupku nanti di sini. Mungkin aku berada di fase penyesuaian, fase penuh kebingungan. Fase berusaha mencerna sejumlah informasi yang datang bersamaan membanjiri otak. Berusaha untuk membaur dengan semua keterbatasanku, terutama di masalah bahasa. Masa adaptasi adalah sebuah proses dan ya, terkadang banyak getir di dalamnya. Semoga aku bisa melewati tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.
Selamat Tahun Baru 2007 buat kalian semua!