Terlalu banyak hal yang terjadi hanya dalam beberapa bulan. Tanpa terasa sudah tahun 2007. Tahun berganti secepat meyobekkan kertas tipis. Belum juga lama berselang aku pindah dari tanah air ke Zurich dan sekarang aku harus pindah dari Zurich ke sebuah kota sebelah bernama Dübendorf. Dari zip code 8005 ke zip code 8600. Sebuah tempat yang aku juga sebenarnya tidak begitu ingin untuk tinggal di situ, hanya saja mungkin ini adalah pilihan terbaik. The best choice among the most fucked up choices.
Karena pindah apartemen, akibatnya rute berangkat ke sekolah juga bertambah jauh. Biasanya hanya naik tram, kali ini harus naik bus, kereta juga tram. Durasinya tidak terlalu lama tapi sudah jelas tambah ribet.
Mencari apartemen di Zurich adalah seperti sebuah kompetisi in another level. Sebagai financial centre, Zurich adalah salah satu lokasi tempat tinggal yang diburu. Persaingan untuk mendapatkan apartemen sangat ketat. Dengan harga sewa yang fantastis, bahkan kadang apartemen kecil dan fasilitas sangat standard juga banyak peminatnya. Orang-orang akan mengantri saat ada visitation untuk melihat keadaan apartemen yang ditawarkan. Kali ini aku kalah dan tidak bisa mendapatkan apartemen sesuai dengan keadaan keuangan.
Akibatnya aku harus mencari tujuan tempat tinggal lain di pinggiran kota Zurich. Menyewa apartemen selama enam bulan dari seorang pegawai di sebuah universitas. Solusi yang sama sekali tak kusuka, namun kadang hidup memaksa kita menjalaninya. Enam bulan tinggal di sebuah daerah yang aku sama sekali merasa asing di sana. Enam bulan untuk memberikan waktu sambil mencari tempat tinggal baru.
Bisa dibilang aku benci tempat ini. Entah karena aku kesal karena tidak bisa mendapatkan apartemen yang kumau atau kesal karena rute ke sekolah jadi bertambah jauh, aku juga tidak bisa membedakan. Karena aku sudah memendam kekesalan tinggal di sini beberapa minggu, hingga suatu malam tanpa terasa aku menangis sambil berjalan pulang ke apartemen. Keadaan menangis karena merasa diri sendiri tidak melakukan perubahan banyak di hidup, tidak ada kemajuan dan semuanya terasa begitu lambat berjalan.
Selama ini aku hanya mendengar cerita teman-temanku tentang beratnya hidup jauh dari keluarga. Tentang susahnya mengatur hidup di sebuah tempat asing, tentang susahnya beradaptasi. Ini bukan hanya tentang mengatur keuangan dan pengeluaran, tapi juga termasuk mengatur emosi dan kewarasan. Mungkin saat ini aku sedang mengalami apa yang dialami teman-temanku dulu.
Apa dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan aku bisa mendapatkan apartemen baru?
Terus terang aku juga tidak tahu. Setiap hari sepulang sekolah kerjaku hanya screening pencarian apartemen. Emailku dipenuhi notifikasi dari berbagai portal pencarian apartemen. Sebegitu intensnya hingga aku hafal banyak istilah dan singkatan di banyak website pencarian apartemen.
GS = Geschirspülmaschine (mesin pencuci piring)
GK = Glaskeramik (kompor listrik, yang permukaannya terbuat dari ceramic glass)
NK = Nebenkosten (biaya tambahan/additional charges; seperti biaya listrik, air panas juga pemanas)
Banyak orang mengatakan bahwa kita akan banyak belajar dari kesulitan. Saat ini aku hanya merasa sangat sulit untuk belajar tentang sesuatu saat berada di tempat yang sama sekali tak kusuka. Bahkan memaksakan diri berusaha untuk berpikir positif juga sangat susah.
Aku sama sekali tak tahu bagaimana hari-hariku di beberapa bulan ke depan.
Aku bertarung dengan waktu.
8600, aku membencimu!