Pengalaman ini aku alami dengan teman sekelasku dari Rumania, Iuliana. Kami sama-sama mengikuti kelas bahasa Jerman di Sprachzentrum ETH Universität Zürich. Jujur selama mengikuti kelas ini aku gak pernah dekat dengan siapapun dan gak berniat berteman akrab juga.
Pangkal dari kejadian ini adalah karena kami yang kebetulan hadir di hari tersebut kebagian tugas dari guru. Kebetulan Iuliana seringnya duduk gak jauh dariku. Sekolahku mulai dari jam 5 sore sampai jam 7 malam. Di tanggal 1 May yang bertepatan dengan Hari Buruh Internasional, kelasku diliburkan. Akibatnya di minggu berikut kelasku diadakan sampai jam 9 malam.
Minggu lalu guruku sudah kasi informasi soal jadwal kelas yang berubah akibat hari libur umum tadi. Dari jam 5 sampai jam 7 malam kelas akan berjalan seperti biasa, tapi dari jam 7 sampai jam 9 malam kami ada acara khusus. Jadi diadakan semacam game untuk menambah pengetahuan tentang kota Zurich. Beneran ya, pada dasarnya aku gak suka games. Jangankan games, main kartu aja aku benci. Jadi bisa dibayangkan gimana perasaanku dengar sebuah kata game tersebut. Rasanya udah malas duluan.
Kami dibagi dalam beberapa grup, satu grup terdiri dari dua orang. Semua grup dikasi tugas untuk mencari dua lokasi restoran atau bar yang tersebar di pusat kota Zurich. Setiap grup dibekali peta kota Zurich. Di lokasi tujuan kami harus mencoba berdialog dengan pengunjung dengan bahasa Jerman dan bertanya pendapat mereka misalnya tentang kesan mereka tentang bar/restoran tersebut.
Okay, singkatnya: sok akrab.
Guruku akan menunggu kami di sebuah lokasi restoran dan setelah selesai melakukan tugas kami harus menuju meeting point dan melaporkan tentang tugas tadi.
Kebetulan aku satu grup dengan Iuliana dan kami dapatin dua tempat yaitu Restaurant Riithalle dan Jules Verne Bar. Kami mulai berangkat ke Jules Verne berhubung lokasinya lebih dekat dari sekolah. Setelah naik tram kami pun turun dan mulai berjalan ke arah Jules Verne. Waktu itu angin sedang kencang-kencangnya dan hujan gerimis turun. Sialnya kami gak ada bawa payung. Setelah gak lama berjalan kami akhirnya sampai ke tujuan. Aku sudah sering lewat lokasi itu tapi kebetulan belum pernah mengunjunginya.
Di lantai dasar terdapat restoran seafood dengan konsep fine dining French bistro sedangkan bar yang menjadi tujuan kami berada di lantai teratas tower yang bisa dicapai dengan lift. Sewaktu berada di depan lokasi, kami berdua tertegun sebentar melihat ke dalam restoran dan berpandangan. Iuliana nyeletuk,
“Look at those people, they look really nice.”
Aku juga punya pikiran sama saat melihat para pekerja (yang kebanyakan dari kalangan banker) baru pulang bekerja dan mengunjungi tempat itu sekedar untuk after work drinks. Jam 7 malam adalah jam sibuk di semua restoran dan bar. Tanpa sadar aku menelan ludah, belum masuk udah gak pede duluan, mana kami berdua baru kehujanan lagi! Tapi berhubung udah dapat tugas dari guru, kami akhirnya masuk.
Kami memasuki jalan masuk restoran Brasserie Lipp lalu menuju elevator untuk menuju Jules Verne Bar. Berhubung elevator dengan kapasitas kecil, kami harus menunggu sebentar sampai akhirnya tiba giliran kami berdua memasuki elevator. Di dalam elevator dilengkapi cermin di sisi kanan dan kiri dan tiba-tiba temanku ketawa sambil ngomong,
“Oh my God, look at my hair!!”
Aku spontan melihat kaca dan kulihat rambut kami berdua awut-awutan, sangat kusut karena barusan tertiup angin kencang dan basah lepek terkena hujan. Kami berdua cekikikan gak berhenti karena merasa kalau ternyata penampilan kami kurang nyambung dengan para pengunjung yang datang ke tempat itu.
Jules Vernes Bar atau yang sering juga disebut dengan Uraniabar berlokasi di sebuah menara. Walau tidak terlalu besar, bar ini memiliki view kota Zurich yang indah. Bisa dibilang Uraniabar adalah salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi saat di Zurich. Kami berdua keluar dari elevator dan berdiri kayak orang bego. Saking bingungnya mau memulai ngomong dengan siapa. Mental kami udah jatuh duluan ngelihat rata-rata pengunjung yang terlihat sangat profesional, luwes, chic dan kelihatan berkelas memenuhi ruangan bar yang memang gak besar itu. Kulirik beberapa pengunjung dan kebanyakan mereka dengan berpakaian dengan classic cut outfit yang walau gak kelihatan brand apa tapi kita udah tahu itu harganya mahal.
Sementara kami berdua?
Rambut kusut dan lepek. Lebih mirip kayak tikus baru kecebur di got. Kami berdiri di pinggiran bar dan sama sekali gak berani untuk memulai ngomong dengan siapa. Temanku mulai ngasi kode nunjuk pelan ke arah dua lelaki Swiss yang berdiri dan sedang ngobrol asyik di sebelah kami. Aku sempat menggeleng ke Iuliana, karena aku gak pede. Mana salah satu dari mereka keren lagi. Rasa percaya diri yang memang kadarnya minim berubah turun jadi minus.
Tiba-tiba temanku ngomong ke mereka, “Hallo!” Aku kaget bukan main. Benar-benar aku gak nyangka dia mau langsung negur duluan. Dua lelaki tadi menoleh dan balas ngomong, “Hallo!”
Aku juga tanpa sadar ngikut ngomong Hallo. Lalu kukira temanku mau mulai mewawancarai mereka, tapi ternyata dia cuma senyum-senyum doang ke mereka. Ya ampun, bikin malu aja. Entah karena dia udah terkesima duluan dengan kedua cowo keren wangi di depan kami atau memang hal lain, aku gak tau juga.
Mungkin saking bingungnya temanku sampai lupa cara memulai percakapan dalam bahasa Jerman. Aku juga sempat tertegun kebingungan. Dua lelaki tadi bingung dengan sikap kami berdua yang ngucap salam tapi justru bengong dan gak ngomong apa-apa. Salah satu dari mereka ngomong dalam bahasa Swiss Jerman. Aku mulai khawatir kalo kami disangka orang aneh, lalu aku berusaha ambil kendali dengan sok pedenya dan dengan bahasa Jerman terbatas aku mulai ngomong,
“Entschuldigung, wir möchten etwas fragen.” (Excuse us, we would like to ask something.)
Kedua lelaki tadi langsung nyahut, “Ohhhh…”
Aduh malu banget rasanya perasaanku saat itu. Temanku bukannya ngebantuin dia masih senyum-senyum doang woi! Dalam hati aku udah mengutuk temanku dengan kalimat-kalimat sejenis,
“Lo cuma berani mancing duluan, gak bantuin kerja, ujung-ujungnya aku yang ngerjain!”
Lalu aku mulai menyusun kalimat menjelaskan kalau kami sedang mengerjakan tugas dari sekolah dan bermaksud melakukan interview singkat dengan pengunjung bar/restoran menggunakan bahasa Jerman.
Memang yang orang yang terdidik dan punya pendidikan yang baik itu selalu kelihatan dari adabnya. Kedua lelaki itu baik dan ramah banget, mereka juga dengan sabar mendengarkanku yang sedikit gugup berusaha menyusun kalimat dan mereka sesekali mengoreksi kesalahan grammatik-ku dengan sopan saat berbicara. Akhirnya karena merasa tanggapan mereka positif, aku juga lebih percaya diri dan lebih lancar ngomong. Sewaktu aku mulai bertanya dengan pertanyaan dari tugas sekolah, temanku baru ikutan nimbrung. Hello, dari tadi lo kemana aja ya? Berubah jadi gaib lo?
Lucunya kedua lelaki tadi juga menyisipkan candaan dan sedikit gangguin kami berdua (gak mau nyebut ini sebagai flirting, gak mau geer, sumpah mentalku udah jatuh lihat salah satu mereka yang keren). Sewaktu aku mewawancarai,
“Was ist Ihren persönlichen Eindrück allgemein über diesen Ort?”
(What’s your personal opinion about this place?)
Salah satu dari mereka yang lebih muda langsung menjawab,
“Sehr angenehme Leute, vor Allem mit den Ausländern, schöne Leute mit schönem Aussicht.”
(Very pleasant people, especially with foreigners, great people with great view).
Habis ngomong begitu dia senyum-senyum ngelihatin kami berdua. Ya ampun rasanya gak tahu deh mau ditaruh kemana mukaku apalagi saat dengar kalimat itu keadaanku yang lagi berambut lepek dan kehujanan. Aku cuma ketawa kecil dengan maksud bahwa aku ngerti arti gurauannya. Untung aja yang ngomong begitu orangnya cakep. Temannya langsung ketawa lalu bertanya ke kami,
“Where’s the meeting point with your teacher?”
Temanku dengan polosnya menjawab, “Helvetiaplatz.”
Spontan mereka ketawa keras, aku juga ikutan ketawa karena aku sudah tahu daerah sekitaran Helvetiaplatz itu seperti apa. Sekolahku yang sebelumnya terletak gak begitu jauh dari Helvetiaplatz dan aku tahu di daerah tersebut terdapat beberapa tempat hiburan malam untuk orang-orang pencari kesenangan tertentu. Yah bisa dibilang di beberapa titik di lokasi tersebut ada hiburan layaknya red light district. Lalu lelaki yang tanya tadi mulai berkomentar,
“What kind of teacher he is? It’s a little bit too early for some crime stuffs.”
Kami berdua cuma bisa ketawa dan mereka berdua kayak tiba-tiba sadar kalo kami juga mungkin gak pernah mengunjungi tempat red light district, lalu ketawa mereka mereda. Aku cuma berpandangan ke temanku sambil senyum dan sedikit malu. Lalu si lelaki cakep tadi mulai nanyain aku lagi sementara temannya ngomong sebentar ke bartender. Gak lama dia datang sambil bawa dua gelas prosecco. Kami kaget banget, tiba-tiba ditawari dua cowo ganteng prosecco. Kenapa ya rezeki ditegur dan disambut para cowo itu sering banget di saat kita lagi di keadaan jelek banget?! I repeat, jelek banget.
Kami berdua sempat ngomong, gak perlu juga sampai harus beliin kami prosecco karena kami harus menuju lokasi kedua. Lalu lelaki yang beliin prosecco tadi tanya,
“Where is the second location?”
Kami menjawab di Restaurant Riithalle. Lalu dua lelaki ganteng di depan kami ngomong, “Ah gampang, sini biar kami yang jelasin apa jawabannya. Udah di sini aja minum sama kami kan udah dapat jawabannya.”
Sungguh mereka berdua sangat persuasif dan udah bisa ditebak dong aku dan temanku ya gak jadi menuju lokasi kedua. Masa iya nanya lagi apa jawabanku; mau hujan-hujanan sambil nyari lokasi kedua atau mau minum prosecco sama cowo-cowo cakep? Udah jelas kan semuanya.
Akhirnya percakapan dilanjutkan dengan full bahasa Inggris diselingi sedikit bahasa Jerman. Gak lama mereka berdua pamit karena ada acara dinner dengan para koleganya. Ya, tebakan kami benar kalo mereka para banker haha. Setelah mereka berlalu, aku dan temanku ketawa sampai lama banget.
Aku bercanda ke temanku, “I hope they paid these drinks already.”
Temanku langsung nyahut, “I hope they paid all their bills as well.”
Lalu kami ketawa ngakak lagi sampai lelah.
Sewaktu kami akhirnya sampai di lokasi restoran di Helvetiaplatz, hampir semua orang udah ada di situ. Kami berdua mungkin yang terakhir sampai ke lokasi. Kami menceritakan ke guruku dan teman-teman sekelas apa yang terjadi. Guruku cuma bisa geleng-geleng kepala dan ketawa apalagi di bagian dimana kami ‘accidently‘ mewawancarai dan dapat bonus minum prosecco.