
Day 1
Hari ini adalah mengungsi tahap dua dengan tujuan Spanyol. Setelah mengungsi sebentar ke rumah kakakku di Jerman, aku bertolak ke Spanyol. Aku berangkat dari Stuttgart Airport, penerbangan siang dengan tujuan Palma de Mallorca. Mungkin ada yang bingung bedain antara Mallorca dan Palma de Mallorca. Mallorca adalah nama pulau sedangkan Palma de Mallorca adalah nama ibukotanya. Ada yang berpendapat kalau Mallorca itu seperti ‘Bali versi Eropa’, terus terang aku juga gak setuju tapi kita lihat saja nanti.
Penerbangan sekitar hampir dua jam yang (seperti biasa) diselingi oleh tidur. Sehabis mendarat, aku harus nunggu bagasi cukup lama. Lalu saat lagi nunggu koper, tiba-tiba baggage conveyer mati.
Terima kasih, Palma de Mallorca Airport!
Baru juga mulai perjalanan udah diawali dengan baggage conveyer yang mati mendadak. Aku harus jalan sana sini di antara sejumlah penumpang buat cari koper. Koperku akhirnya ketemu dan aku langsung jalan keluar dari airport. Karena Spanyol wilayah Schengen, otomatis bisa langsung melenggang keluar airport tanpa pemeriksaan extra. Hari masih terang walau saat itu sudah menunjukkan pukul 19:00 dan rasanya sudah gak sabar untuk secepatnya sampai di hotel.
Keluar dari bandara, aku langsung cari taxi. Setelah ketemu salah satu taxi secara acak, aku langsung tunjukin alamat hotel ke supir taxi,
“Do you know this address?”
Supir taxi gak jawab, aku hampir gak bisa bedain dia ngangguk atau menggeleng. Si sopir masukin koperku ke bagasi mobil, masih nyuekin aku. Gak tahu apa karena dia gak bisa bahasa Inggris atau hal lain. Kuulangi lagi pertanyaanku, tapi dia gak jawab sama sekali cuma cemberut. Tanpa lihat mukaku dia langsung masuk dan tutup pintu mobil, ninggalin aku di luar. Alright, the first a**hole that I’ve met in Spain. Belum juga sejam aku mendarat di Spanyol, rasanya aku udah pingin nabok salah satu penduduk di sini.
Aku naik ke taxi dan ternyata si supir gak aktifkan mesin agrometer. Rasanya pingin nahan diri buat gak tanya kenapa dia gak hidupin mesin agrometer, tapi aku gak tahan juga. Sehabis tanya, si supir cuma jawab pake bahasa Spanyol, sementara aku gak bisa bahasa Spanyol. Kata-kata bahasa Inggris yang dia sebutin cuma ‘twelve Euro’ selebihnya hanya ngomel panjang ke aku dalam satu tarikan nafas.
Aku gak jawab, gak mungkin juga mau nyumpal mulut itu supir taxi. Gak sabar banget mau sampai hotel. Rasanya udah capek, lapar dan pingin cepat mandi. Gak terasa taxi berhenti, ternyata sudah sampai di hotel. Si supir taxi udah turun duluan dan keluarin koperku. Aku keluarin uang ‘twelve Euro’ dan si supir terima uang tanpa ngomong makasih dan langsung tancap gas. Saat itu aku nyesel banget tadinya gak nabok itu orang.
Aku masuk ke hotel untuk check-in. Sang receptionist menyambutku dan aku menunjukkan booking reference. Receptionist terlihat berpikir sebentar lalu ngomong,
“One moment, please.” Lalu dia menelepon sebentar. Selesai bertelepon dia ngomong, “This is not the hotel that you booked, miss.”
Aku kaget karena sewaktu di luar kulihat nama hotelnya sama. Tapi ternyata ada di dua bangunan yang berbeda.
“Your hotel is over there, just on the opposite of this hotel. You just need to cross the street.”
Rasanya saat itu aku pingin jadi cewek dramatis yang cuma bisa ngamuk dan ngomong, “Are you f**king kidding me?” Beneran saat itu mau marah, tapi gak tau sama siapa dan terlalu capek.
Aku menyeberang jalan sambil menyeret koper ke arah hotel. Receptionist udah nungguin aku. Kelar check-in, aku langsung mandi. Badan rasanya mau rontok dan pingin cepat tidur tapi aku belum makan malam. Walaupun rasanya udah pingin langsung tidur tapi aku harus cari makanan. Akhirnya di antara keputusasaan aku cuma beli burger di Burger King, gak jauh dari hotel. Entah karena terlalu capek, semua yang dimakan terasa gak enak.
Keluar dari Burger King, malahan ada empat cowok yang mulai jalan nguntitin aku pake mobil. Kukira adegan gini cuma ada di film Hollywood doang, dimana ada beberapa cowok nyebelin dan sok asik yang nguntitin cewek sambil sahut-sahutan dengan bahasa yang ngeselin dan bikin jalanan macet karena mobil mereka jalannya lambat. Percayalah, ternyata adegan menghela nafas panjang dan rolling eyes di film itu benar adanya. Dalam hati rasanya pingin ngomong, “Udah lo diem semuanya, pulang sana!” Rasanya bukan cuma nanggung malu karena ada sekelompok cowok norak making a scene, tapi aku juga harus nanggung malu karena sejumlah mobil di belakang mereka udah pada hidupin klakson setengah kesal. Damn! Aku berusaha tetap berjalan sok cool, untung aja jarak ke hotel gak jauh. Tapi ternyata mereka gak nyerah. Bahkan sampai depan entrance hotel masih juga ngikutin aku. Awal yang nyebelin di Spanyol.
Day 2
Bangun tidur aku ngerasa agak bingung ada dimana, lalu ingat ternyata lagi di Mallorca. Jam 08:30 dan udara lumayan panas, di luar udah rame aja suara turis.
Btw, jangan bayangin hotel yang kuhuni ini hotel mewah. Kamar yang kudapat dengan penawaran last minute ini kecil banget. Namanya juga pelajar miskin, tinggal di kamar ukuran segini udah berasa di surga.
Freedom and happiness (salah quote kayaknya).
Selesai siap-siap, aku turun untuk sarapan. Sarapannya sangat standard. Memangnya mau mengharapkan sarapan macam apa dengan harga hotel segini? Habis mikir gini rasanya antara sedih dan mau ketawa.

Lokasi hotelku namanya Can Pastilla. Aku juga belum tahu banyak tentang daerah ini, jadi mohon jangan tanya aku ya, silakan cari tahu sendiri. Jarak ke pantai sangat dekat, sekitar tiga menit jalan kaki. Aku gak ada niat buat berjemur seperti kebanyakan turis di pinggir pantai, apalagi udara udah panas banget menjelang jam sepuluh pagi. Berbekal shopper bag dan kamera, aku jalan di sepanjang Playa Can Pastilla. Sama sekali gak ada tujuan khusus, cuma cek satu demi satu toko yang kebanyakan toko souvenir. Sebenarnya ada aquarium yang juga jadi salah satu tujuan wisata, tapi gak mood banget mau ke aquarium saat itu.
Udara udah sangat panas, mungkin sekitar 36°C, bikin badan terasa capek. Aku makan siang singkat di restoran yang pertama kulihat. Makan siang sambil sekalian berteduh dari cuaca panas dan gerah. Makanan terasa makin enak, entah karena rasanya memang enak atau karena aku kelaparan. Rasanya bahkan udah gak berniat jalan jauh lagi, gak tahan dengan cuaca panas ini. Akhirnya sisa hari itu cuma window shopping dan belanja.
Sehabis makan siang aku cuma strolling di area gak jauh sekitar hotel. Aku juga singgah ke sebuah toko buku. Di toko buku dijual kamus Spanyol – Inggris. Dengan sok yakinnya aku beli kamus mini bahasa Spanyol dan peta kecil area Palma de Mallorca.
Sewaktu bayar, aku lihat si pemilik toko dan sepertinya dia terlihat cukup ramah kalau dibandingkan dengan penduduk setempat apalagi kalau dibandingkan supir taxi kemarin. Aku akhirnya nekad bertanya ke si pemilik toko dengan sok yakin,
“Do you speak English?“
Dia menggeleng penuh penyesalan. Aku udah patah semangat tapi coba tanya lagi,
“Do you know the shopping center around here?” (plus bahasa Tarzan)
Dia mulai jelasin panjang lebar (tapi pakai bahasa Spanyol) sambil gerakin tangan kesana kemari. Aku sama sekali gak ngerti dia ngomong apa. Lalu dia mulai ambil peta yang barusan kubeli terus nunjuk sambil ngomong, “Palma.. Palma”
Aku mulai ngerti maksudnya kalo mau belanja aku harus ke kota Palma. Terus aku mulai tanya lagi dengan mengerakkan tanganku juga:
“How can I get there? With bus?” Habis ngomong gini rasanya hampir kayak jadi Tarzan beneran.
Dia mulai lagi jelasin panjang lebar, tunjuk sana, tunjuk sini, tapi cuma dua kata yang aku ngerti; ‘shopping’ dan ‘bus’ sementara kata-kata lain dilupakan aja. Akhirnya aku pergi dari toko itu sambil ngucapin terima kasih. Keluar dari situ rasanya aku mau ngakak.

Sebelum makan malam aku balik ke hotel buat mandi. Badan terasa lengket karena seharian ada di cuaca gerah dan lembab. Sesudahnya aku balik lagi jalan dari toko ke toko sambil nunggu waktu makan malam. Lumayan capek jalan, akhirnya aku berhenti di salah satu restoran dan bar yang menjual makanan Turki.
Mungkin karena saking capeknya aku asal memilih menu. Aku lupa saat itu aku di negara yang mata uangnya Euro, bukan Swiss Franc. Aku asal tunjuk menu dan memilih Dönner Teller dan lupa kalau di Swiss kursnya beda dan porsinya beda juga.
Sewaktu si waiter bawa pesananku, ternyata porsinya hampir tiga kali porsi normalku! Aku yang udah terbiasa dengan mahalnya harga di Swiss gak nyangka dapat menu porsi superhero gitu. Akhirnya udah bisa ditebak kalo aku gak bisa ngabisin makan malamku. Si waiter datang dan ngeliat aku udah gak makan lagi, dia tanya,
“Why? What’s wrong?”
“No, there’s nothing wrong. It was delicous, but the portion is too big for me.”
Aku masa bodo dengan wajahnya yang berubah sedikit sebel.
Jalan-jalan berlanjut lagi di sepanjang jalan di dekat pantai. Setelah jalan cukup jauh, aku ngeliat banyak orang berdiri kayak berpromosi gitu. Ternyata di daerah situ daerah dimana banyak club bertaburan, banyak juga remaja yang ternyata mau clubbing. Baru juga sampai di area itu, aku dan beberapa orang di sekitarku dihampiri seorang lelaki dari club itu buat nawarin kami masuk ke club mereka. Dia berpromosi ini itu, katanya setiap malam ada sekitar sekian orang hang out di kawasan sana (gak tau juga bener atau gak). Aku jadi penasaran dan ikutan masuk. Kesimpulan: ternyata aku cukup gampang termakan iklan haha.
Di dalam ternyata banyakan remaja, baru masuk club langsung menyesal. Memang ada juga yang kira-kira seumuranku tapi dibandingin para remaja jumlahnya kalah jauh. Club-nya lumayanlah, pastinya lebih seru kalo datang kesana dengan teman-teman. Akhirnya aku gak lama di sana, lagian ga mood buat party. Gak terasa udah lewat tengah malam, untung aja masih ada bus jurusan ke hotelku. Akhirnya dengan terkantuk-kantuk aku balik ke hotel. Benar-benar 24 jam yang tak banyak faedahnya.
Day 3
Aku bangun kesiangan, udah jam 10 pagi. Ternyata di belahan dunia manapun jam bangun tidur tetap telat. Jam sarapan di hotel udah lewat, akhirnya aku gak sarapan. Kelar mandi dan bersiap-siap, setelah itu ke front desk buat nanya jalan ke Palma. Si resepsionis ngejelasin kalo aku bisa ke kota Palma naik bus yang haltenya ga jauh dari hotelku. Mungkin ini kali ya yang mau dijelasin si bapak kemarin, aku aja yang gak ngerti. Rasanya kalo ingat adegan kemarin jadi mau ketawa lagi.
Aku nyoba pergi ke Palma. Setelah tanya sana sini dengan beberapa penumpang, akhirnya aku sampe ke Palma! Tenang aja, sampe di Palma aku gak pake adegan cium aspal kok atau adegan selebrasi pemain bola. Katanya di Palma ada katedral yang jadi objek wisata. Setelah celingak celinguk, tanya sana, tanya sini, aku nemuin katedral yang mau kukunjungi. Seperti katedral lainnya, Katedral Mallorca juga adem dan dingin. Aku sibuk memotret sana sini, walau harus diakui lebih banyak gaya yang memotret daripada yang dipotret.
Walau katedral juga salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi turis, tapi gak ada keterangan berbahasa Inggris, jadi semuanya ditulis dengan bahasa Spanyol. Aku ngucapin good luck ke diri sendiri yang gak ngerti bahasa Spanyol.
Catedral de Santa María de Palma de Mallorca yang mulai dibangun dari tahun 1229 dengan gaya Gothic, membutuhkan waktu lebih dari 300 tahun untuk merampungkannya. Penduduk setempat menyebut tempat ini ‘La Seu’ yang merupakan istilah digunakan masyarakat Catalan dan berarti katedral.
Sewaktu lagi keliling di katedral, aku berdiri di dekat salah satu rombongan tour yang berbahasa Jerman. Sang pemandu tour sibuk menjelaskan objek yang dipamerkan di dalam katedral. Saat si pemandu wisata sedang menjelaskan sesuatu yang berkenaan dengan Bunda Maria, dia menyebut kata Maria. Tiba-tiba ada seorang anak balita perempuan yang ikut di rombongan tour itu nyeletuk:
“Ich bin auch Maria.” (I’m also Maria)
Rupanya karena bernama Maria juga, si anak perempuan ini gak mau kalah ikutan nimbrung ngomong. Lalu si pemandu tour nimpalin:
“Oh du bist auch Maria? Also, es gibt zwei Marias.” (Oh you’re also Maria? So, there are two Marias)
Akhirnya semua orang yang ikutan tour ketawa, termasuk aku. Si anak perempuan tersenyum bangga.

Aku mulai lapar lalu nyari restoran buat makan siang. Selesai makan siang, mulai jalan lagi. Banyak toko berderet-deret dari merk biasa sampe merk mahal, kebanyakan toko sepatu. Beberapa meter sekali pasti ada toko sepatu, sayangnya aku udah shopping duluan di Jerman jadi terpaksa tahan selera. Sesudah capek jalan kesana sini di Palma, aku balik ke hotel.
Sehabis mandi, aku niatan buat makan malam di restoran Thailand di dekat hotelku (udah ga sanggup buat jalan jauh lagi, capek!). Setelah itu aku jalan nyantai di sepanjang pantai, proses jalan-jalan ga sengaja itu membuahkan hasil. Ternyata ada lounge bar yang keren ga jauh dari sana. Aku nyoba minum disana tapi ga lama karena mereka udah mau tutup, aku pun udah capek dan sangat ngantuk.
Day 4
Hari terakhir di Mallorca. Sehabis sarapan sempat niat mo pergi ke Palma Aquarium. Tempatnya ga gitu jauh dari hotelku tapi karena panas terik terasa jauhhh banget. Akhirnya aku batal mau ke aquarium, selain udah gak semangat lagi juga karena harga tiketnya lebih mahal daripada tiket Stuttgart Zoo haha. Kalo ada yang pernah ke zoo di Stuttgart, pasti tau gimana besarnya kebun binatang ini. Aku cuma motret bangunan luarnya aja, belum apa-apa rasanya udah capek karena panas yang lumayan terik.

Gak tau karena masih capek dari jalan kemarin, akhirnya aku balik ke hotel. Maksud hati cuma mau istirahat sebentar tapi ternyata ketiduran sekitar sejam LOL. Bangun tidur aku mulai packing, mandi dan berniat pergi ke pantai sambil jalan-jalan. Setelah dua hari cuma jalan kesana kemari dari toko ke toko, dari pintu ke pintu (ini liburan atau jadi sales woman?!), akhirnya aku ke pantai juga. Jalan sebentar di pantai dan main air, aku jalan lagi karena masih punya misi belanja di hari terakhir.
Kelar belanja, aku naruh barang belanjaan ke hotel dan ganti baju. Selama di pantai cuma pake tank top plus kain pantai doang. Aku mikir-mikir mau makan malam dimana. Pengennya sih di restoran yang lain dari yang laen. Baru aja mikir sambil jalan keluar dari hotel, gak berapa lama kedengaran orang manggil, “Hi.. ni hao?”
Udah jauh-jauh dari Indonesia sampai ke Spanyol, tetap aja ditegur ni hao. Aku jalan terus melewati restoran-restoran. Di depan salah satu restoran ada beberapa ABG ngumpul. Ketika aku lewat mereka pada nyahutin,
“Modelo… modelo.”
Ya ampun kalo tadi aku disangka orang Tionghoa, sekarang ABG kurang kerjaan manggil modelo (gak tau juga apa artinya model atau model rakitan pesawat terbang). Ternyata orang kurang kerjaan itu tersebar merata di seluruh dunia. Tuhan memang adil. Sambil jalan terus aku singgah di sebuah restoran untuk makan malam lalu jalan cari lounge sekedar buat nongkrong sambil bengong. Tanpa terasa besok sudah harus balik ke Swiss.
Aku balik ke hotel dan kasi pesan ke receptionist buat pesan taxi sebelum jam 7 pagi. Setelahnya aku mulai lagi selesaikan packing. Packing dan unpacking adalah pekerjaan yang sama sekali tidak menyenangkan. Sambil beresin barang aku sempat mikir bahwa aku sepertinya gak cocok kerja di jasa packing barang (siapa juga yang mau nawarin aku kerja di situ?!).
Day 5
Sudah lewat tengah malam dan aku gak ngerti kenapa belum selesai packing juga. Akhirnya cuma tidur sebentar dan terbangun karena alarm yang sudah di-setting dengan volume maximum. Bangun tidur aku langsung mandi dan siap-siap untuk ke bandara. Untung aja supir taxi jauh lebih sopan daripada saat aku tiba di sini.
Setiba di airport aku check in secepatnya setelah itu minum teh di café. Rasanya ngantuk banget karena last minute packing. Tahap selanjutnya ngantri buat security checking. Penumpang sambil ngantri udah pada buka tali pinggang dan sepatu. Aku pun ancang-ancang lepas jam tangan. Waktu ngelewatin metal detector dan mesinnya bunyi. Petugasnya yang galak minta ampun, teriak-teriak nyuruh aku lepas sandalku. Bukan cuma aku aja yang dibentak tapi juga para penumpang lain. Aku ngelepas sandalku, baru deh gak bunyi lagi. Waktu sebelum boarding kuhabiskan dengan keliling airport sambil nahan ngantuk.
Di pesawat aku tidur walaupun gak khusyuk, terbangun cuma waktu makan (kebiasaan yang ga pernah hilang kalau lagi di pesawat). Aku sampai dengan selamat di Stuttgart Airport. Setelah mengambil bagasi, aku minum coklat panas di salah satu café sambil nunggu kereta. Aku jalan ke lantai bawah, ga lama kemudian kereta pun merapat datang.
Tujuan berikut: Stuttgart Hauptbahnhof.
Sesampainya disana aku keliling sana sini, karena aku gak begitu familiar dengan main station di Stuttgart jadi harus tanya ke orang-orang sambil nyariin platform yang mau kutuju sampai hampir kesasar.
Di kereta menuju Zurich aku bisa tidur dengan lebih tenang tanpa bolak balik terbangun karena dengar suara pramugari. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam dari Stuttgart Hauptbahnhof ke Zürich Hauptbahnhof. Sewaktu kereta mulai melewati stasiun Singen memasuki perbatasan Jerman – Swiss (memasuki Kanton Schaffhausen), para petugas imigrasi mulai jalan buat mengontrol para penumpang.
Dua petugas mendekatiku, mereka ngecek pasporku dan ID card-ku. Mereka tanya apa aku ada bawa barang yang perlu declaration seperti alkohol dsb., aku bilang ga ada. Terus mereka tanya aku dari mana aja, aku jawab aku dari Jerman dan Mallorca (mau bohong juga ga bisa kan?). Begitu mereka dengar kata ‘Mallorca”, langsung aja salah satu petugas nunjuk koperku dan nanya:
“Is this your suitcase?”
Aku pun mengiyakan, dia ngomong lagi, “Okay, I will check your suitcase now.”
Seumur hidup baru kali ini aku traveling naik kereta pake acara dibongkar koper segala. Walaupun gak ada bawa barang terlarang tapi tetap aja kan rasanya deg-degan kalau koper dibongkar petugas imigrasi. Untung aja underwear-ku di koper gak kelihatan. Akhirnya sesudah lebih dari 10 menit petugas imigrasi memeriksa sampai koperku asli acak-acakan, mereka pergi setelah ngembalikan paspor dan ID card-ku.
Satu hal lagi, walau aku sempat beli kamus Bahasa Spanyol – Inggris tapi bisa dibilang hampir gak terpakai. Ujung-ujungnya aku cuma tau tiga kata doang: hola (hallo), gracias (thank you) dan salidas (exit).
Note: kata yang terakhir ini sangat berguna kalo lagi di airport!

