Berakhir juga masa penantianku akan hasil test penempatan kelas Bahasa Jerman. Kemarin aku udah ikutan test, yang ternyata nih.. lebih susah daripada soal-soal test di sekolah sebelumnya. Ada multiple choice dan banyak pertanyaan yang harus dijawab dengan menjelaskan. Mana ada disuruh nulis surat lagi, tapi bagian ini gak aku jawab karena aku belum belajar sampai topik tersebut. Payah soalnya woi!
Aku ujian sendirian di salah satu ruangan kelas. Berhubung aku sendirian makanya bebas mau ngomong sesuka hati pake Bahasa Indonesia. Untungnya di ruangan itu gak ada hidden camera. Karena kalo misalnya ada hidden camera pasti yang ngeliat pada bingung, ini anak lagi ujian atau lagi melafalkan mantra?
Setelah beberapa saat berkeluh kesah, ngomong sendiri sambil nulis jawaban, juga mengeluh sampai sedikit memaki gak tentu karena gak tau mo nulis apa, aku keluar dari ruangan ujian sambil mencengkram pena sampai itu pena mau patah seolah aku adalah titisan Hulk. Keluar dari ruangan, seorang wanita menyambutku dengan tangan terbuka dan mata tertutup (lah gimana nih maksudnya). Si wanita ini ternyata adalah kepala sekolah dan dia sendiri yang langsung mengoreksi hasil ujianku pada saat itu juga di depan mataku.
Hyaa sungguh dramatis.
Aku udah deg-degan aja mikirin apa yang bakal dia komentarin tentang jawabanku serta level kelasku. Sewaktu dia ngeliat lembar jawabanku, tanpa disangka dia malah memuji,
Nyonya Kepala Sekolah : “Wah tulisannya bagus!”
Aku: “Danke.”
Habis mengoreksi hasil testku, dia bilang kalo dia senang aku mengisi bagian essay. Nyonya Kepsek bilang, banyak orang Asia yang ikut test penempatan kelas itu gak mau ngisi bagian essay. Nyonya Kepsek juga menambahkan bahwa mengisi jawaban juga menandakan kalo aku punya minat buat mempelajari bahasa tersebut. Perkataannya hampir membuatku terbius sampai hampir nyeletuk, “Iya, Ndoro“, tapi gak jadi.
Akhirnya setelah selesai memeriksa testku, Nyonya Kepsek tanya apa aku mau masuk kelas Level A3 atau mau masuk Level A4. Dengan sok yakin aku jawab,
“A vier!” (Vier = empat).
Dia ngangguk puas, seolah baru saja sukses transfer ilmu silat ke aku.
“Bagus kalo begitu,” katanya.
Sebenarnya aku milih kelas A4 karena aku udah punya bukunya, jadi ga perlu beli buku lagi. Membayangkan harus bayar untuk beli buku lagi, level penderitaan pelajar yang ada di diriku berangsur naik. Selain alasan itu, bab terakhir yang aku pelajari di sekolah lama adalah bab awal yang akan dimulai di sekolah baru ini. Benar sekali, semua hal berjalan sesuai rencana. Tanpa sadar aku mengangguk lalu disambut dengan senyuman Nyonya Kepsek yang mengira aku telah menemukan jalan hidup baru di sekolahnya, padahal aku cuma senang karena gak perlu beli buku lagi aja.
Konsultasi berlanjut lagi dengan Nyonya Kepsek kali ini tentang administrasi termasuk juga penentuan tanggal masuk kelas. Astaga ini Kepsek ngomongnya cepat banget sementara aku ngomong terbata-bata. Masih belum pede buat ngomong dengan suara kencang. Suaraku pelan, lamban dan lambat, banyakan mikir, mata berkedip tiga kali baru jawab. Belum lagi bahasa Jermanku yang masih ancur banget. Hiks.
Mau tau pertanyaan-pertanyaan di test kemarin? Aku gak ingat semua, cuma ingat tiga pertanyaan aja dan cuma bisa kutulis dalam Bahasa Indonesia. Disimak baik-baik ya, anak-anak.
F = Frage (Question), A = Antwort (Answer)
F : Bagaimana cuaca kemarin?
A: Cuaca kemarin kurang begitu baik, mendung seharian penuh karena musim panas sudah berlalu, musim gugur telah datang. Tentu saja saya lebih suka musim panas dibandingkan musim-musim lainnya.
F : Kalau kamu sudah menguasai bahasa Jerman, maka…
A: 1) Saya akan bisa berbicara Bahasa Jerman dengan baik. 2) Saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik di Swiss. (jawaban standar) 3) Saya bisa melanjutkan studi di bidang lain. 4) Saya bisa mendapatkan teman lebih banyak.
Perhatikan pertanyaan berikut ini:
F : Apa hal yang tidak kamu sukai di kota Zurich?
Baca pertanyaan ini, aku bingung mau jawab apa. Kalo aku jawab : “Gak suka kota Zurich karena akhir-akhir ini banyak para lelaki yang nguntitin aku kalo lagi belanja dari para ABG ampe orang kantoran.” Bisa jadi Nyonya Kepsek bakal ngomong, “Sok cantik banget sih lo!”, sambil buang kertas jawabanku ke lantai.
Terus kalo aku jawab, “Ga suka karena kota Zurich mahal minta ampun.” Lagi-lagi sang Nyonya Kepsek bakalan nimpalin, “Ya ngapain tinggal di sini? Anda salah negara. Hello?!”
Makanya aku nulis jawaban lain. Mari kita ulang pertanyaannya dan kali ini bakal kujawab dengan bahasa Jerman dengan grammar pas-pasan.
F : Was gefällt dir an Zürich nicht?
F: (Apa hal yang tidak kamu sukai di kota Zurich?)
A: Eigentlich, Zürich gefällt mir sehr gut! Es gibt viele interessanten Sachen, schöne Aussichten und freundliche Leute. Vielleicht nur ein kleines Ding: Warum kontrollieren die Polizei nur beim schönen Wetter?
A : Sebenarnya saya sangat suka kota Zurich! Banyak hal-hal menarik (di Zurich), pemandangannya indah dan orang-orang ramah cuma ada satu hal kecil: kenapa para polisi (di Zurich) cuma melakukan kontrol di saat cuaca cerah?
Walau kedengarannya jawaban asal tapi sebenarnya itu berdasarkan fakta, setidaknya itu yang beberapa kali kualami selama setahun hidup di sini. Sebenarnya bukan cuma para polisi aja yang mau kutulis, tapi juga para pegawai tiket kontrol. Tapi sewaktu test aku lupa bahasa Jerman dari profesi ‘pegawai tiket kontrol’. Aku cuma ingat masyarakat menyebut mereka dengan istilah ‘Billetkontroller’ yang merupakan bahasa Swiss German. Bahasa Swiss German banyak menggunakan campuran dari kata-kata dari bahasa Perancis. ‘Billet’ sendiri adalah bahasa Perancis yang artinya tiket. Sedangkan bahasa Jerman dari kata tiket adalah ‘Fahrkarte’ tapi tentu saja dong kata ini sama sekali gak teringat sewaktu test. Gak apa-apa deh, namanya juga lagi belajar. Selain itu, sebenarnya orang-orang di Zurich juga gak terlalu ramah. Aku menulis begitu cuma biar jawabanku gak terlihat terlalu singkat aja.
Begitulah cerita seputar hasil test penempatan kelas Bahasa Jerman. Oh ya, resminya aku akan mulai masuk sekolah tanggal 1 Oktober tapi hari ini dan besok aku bisa masuk kelas percobaan. Siapa yang mau kirim salam sama si Nyonya Kepsekku yang super chic? LOL.