Udah cukup lama gak update blog. Alasan klisenya karena sibuk. Hidupku akhir-akhir ini makin sibuk. Mungkin ini yang namanya beradaptasi dan berintegrasi, berusaha mencari pertemanan dan mengisi waktu dengan rutinitas. Ini adalah masa dimana aku merasa waktu 24 jam gak juga cukup. Suatu kemajuan dari aku yang dulunya cuma bisa bengong doang. Walau susah untuk bergaul, tapi aku tetap berusaha untuk cari teman setidaknya dengan teman sekelas.
Oh ya, ada yang mau tau gimana kelanjutan cerita waktu aku ke Jerman akhir minggu lalu? Baiklah silakan disimak kelanjutannya.
Dengan berbekal Visa Schengen, aku berangkat ke Jerman. Aku naik kereta ICE, yang pelafalannya itu bukan kayak kita nyebutin kata ‘Es’ dalam bahasa Inggris. Karena berangkat ke stasiun sehabis pulang sekolah, ini berarti juga harus pontang-panting lari kejar tram ke arah Zurich Hauptbahnhof (Zurich Main Station). Sesampainya di stasiun kereta utama rasanya udah kehilangan nafas saking capeknya lari (mau nulis jarang olahraga itu sangat berat rasanya). Makeup juga udah hampir hilang, bikin wajahku makin kuyu. Belum lagi karena sekarang hampir masuk winter yang berarti aku harus pakai down jacket dan boots. Mana bawa koper dan tas yang isinya buku-buku pelajaran. Walau gak sampai ketinggalan kereta tapi badan udah keringatan.
Di perbatasan Swiss dan Jerman, dua orang petugas imigrasi jalan buat periksa paspor para penumpang dan…. anehnya mereka cuma melewatiku tanpa bertanya. Ya, pasporku sama sekali gak diperiksa! Ampun dah, segala jerih payah dan nyaris pertumpahan darah yang terjadi di depan counter pelayanan visa itu ternyata cuma begini hasilnya. Bahkan petugas imigrasi tadi ngelihat mukaku juga nggak. Rasanya saat itu pingin aja teriak sekencangnya, “Halloooo, saya juga punya Visa Schengen loh!!!”
Beneran, aku gak mau lagi apply visa ke sana.
Di perjalanan pulang dari Jerman pasporku diperiksa oleh dua orang petugas imigrasi dari Swiss. Salah satu dari mereka adalah petugas yang lebih muda dan sepertinya sedang training sementara petugas yang lebih senior hanya mengawasinya. Jadi si petugas yang sedang training berusaha bersikap tegas nyaris galak. Dia mulai bertanya, banyak pula pertanyaannya. Aku berusaha jelasin tentang visa 15 hari yang kupunya supaya dia berhenti tanya, lalu dengan santainya si beliau jawab,
“Gak ada bedanya, gak berpengaruh.” (maksudnya dia bakalan tetap bakal kasi banyak pertanyaan)
Wow ternyata orang Swiss memang hebat dalam hal bekelakuan cuek. Buat apa bayar CHF 45 buat dapatin visa 15 hari kalau dapat jawaban begitu dari petugas imigrasi. Hmm… Tapi untungnya aku ngerti si petugas muda memang lagi training dan mau bikin supervisor-nya terkesan, jadi dia aku maafin. Demikianlah sedikit petualanganku selama apply Visa Schengen keluaran Kedutaan Jerman.
Btw, besok aku ada test di sekolah. Aku belum belajar sama sekali. Mampus! Sebenarnya aku lagi sakit. Sepulang dari Jerman langsung merasa gak sehat. Tapi sekolah harus jalan terus dan besok ada ujian. Alamat nanti malam aku harus belajar hafalin kata kerja dalam bentuk Präteritum dan mempelajari kosa kata beserta artikelnya. Kapan ya aku bisa berbahasa Jerman yang baik dan benar?