Kemarin aku udah terima hasil Probetest-ku. Setelah deg-degan selama beberapa hari, akhirnya aku tau juga gimana kemampuan bahasa Jermanku. Beberapa teman sekelasku udah pada tanyain guruku,
“Kapan nih kami dapatin hasil Probetest?”
Guruku cuma senyum-senyum doang, bikin mereka yang nanya makin gregetan. Aku sama sekali gak ada nanyain. Berusaha berlagak kayak cowo yang sok cool padahal ya pingin dapetin cewe. Lah, kenapa juga aku berubah jadi cowo ya? Buruan switch jadi cewe lagi.
Akhirnya hari ini guruku masuk kelas lalu gak lama bagiin hasil test buat kami semua. Cara ngebagiinnya juga pakai pengumuman. Jadi tiap siswa dikasi analisa di bagian mana yang masih harus diperbaiki plus guruku juga ngasi tau nilai berapa yang diperoleh. Jadi kalau lo siswa pemalas yang ujian cuma modal doa doang ya bakalan ketauan karena sekelas bakalan dengarin. Sungguh sebuah cara yang bikin ciut (sekaligus bikin malu juga kalo hasilnya jelek).
Satu persatu teman-temanku mulai dapetin hasil ujian mereka, sementara aku belum juga dapetin hasilnya. Sekedar informasi, untuk lulus test TELC skor yang harus diperoleh adalah minimal 60%. Sumpah saat itu rasanya jantungku udah gak karuan. Sampai mikir, ya Tuhan aku bukan cuma bawa nama keluarga tapi juga bawa nama bangsa. Halah, minta ditabok.
Lalu guruku jalan ke arahku sambil ngomong dengan suara dibuat dramatis, sengaja dilambatin.
Guruku: “Ika.”
Aku: “Ohh nein…”
Teman-temanku yang udah pada terima hasil test pada ngakak cekikikan, bukannya prihatin.
Guruku: “Bagian Grammatik kamu dapat skor……. 92%.”
Sekelas: “HAAAAA, zweiundneunzig??” (Zweiundneunzig = 92)
Semua teman sekelasku udah kayak choir, serempak ngomong HAAAAAA sambil terkejut. Aku lebih shocked daripada semua orang di kelas jadi gak bisa ngomong apa-apa. Cuma bengong.
Guruku: “Di bagian Hören, Lesen und Schreiben kamu dapat skor 93%.”
Aku: *Masih juga bengong* “Was? Echt? Wirklich?!” (What? Beneran?!)
Guruku: “Ya, hasilnya bagus sekali. Nilai kamu yang tertinggi di kelas.”
Rasanya waktu itu bingung mau ngomong apa. Mungkin tampangku saat itu nampak goblok. Guruku lalu menyerahkan lembaran-lembaran testku dan ternyata memang beneran aku dapat nilai segitu (ya iyalah, masa iya guruku bohong).
Grammatik
Dari 73 soal, aku jawab 67 soal dengan benar. Skor: 92%. Bahkan dapat note dari guruku fantastisch.
Bestanden (Passed).

Hören, Lesen und Schreiben
Hören: dari 15 soal, jawabanku yang benar ada 13.
Lesen: dari 15 soal, jawabanku yang benar ada 14.
Schreiben: dari 15 soal, jawabanku benar semua.
Skor: 93% dengan note: Super!

Beneran aku gak nyangka bisa dapetin nilai segitu. Kukira bisa ngelewati skor 60% aja rasanya aku pengen kenduri massal, gimana lagi kalau lebih dari 90%? Walaupun ini masih Probetest tapi rasanya senang banget. Bisa dibilang ini ujian besar pertamaku di Swiss dan senang sekali bisa melewatinya dengan baik.
Saat itu di kepalaku tiba-tiba sejumlah pribahasa serta quotes bijak melintas di kepala. Mulai dari “Rajin pangkal pandai” sampe quotes dari Abraham Lincoln mampir di kepala. Halah kayak hafal aja quotes dari Abraham Lincoln. Selama ini kukira aku cuma cengengesan aja di kelas, ternyata aku berhasil belajar juga. Mungkin salah satu usahaku yang juga dilihat guruku adalah saat mengerjakan PR aku berusaha membuat suatu hal yang beda, misalnya berusaha menulis tema yang beda dengan kosa kata yang berbeda dan lebih berkembang. Di apartemen kupandangi lagi lembaran-lembaran ujianku tadi. Mungkin masih ada harapan buatku untuk tinggal dan menetap di sini.