Kamis minggu lalu terjadi sebuah adegan kecil di kelas. Baru aja kelas dimulai, guruku langsung ngomong dengan santainya, “Nanti sesudah Pause (break), bakal ada test.”
Oh nooo, belum juga pulih dari soal-soal kemarin yang jumlahnya lebih dari seratus soal itu dan sekarang udah mau test lagi? Yang benar aja, ibu guru. Temanku yang kebetulan duduk di sebelahku bergumam sambil menggerutu, “Alamat hari ini aku bakal sial melulu.”
Nasibmu lah, nak.
Singkat cerita, sehabis jam istirahat test pun dimulai. Untungnya kali ini soal-soalnya lebih gampang daripada ujian lalu dan jumlah soalnya cuma 51 aja. Suasana selama mengerjakan soal-soal diiringi oleh soundtrack berupa keluh kesah para siswa yang tentunya tidak punya persiapan buat menjawab test diselingi lembaran kertas dibolak-balik.
Lalu aku?
Untung aku udah cukup lama berguru dengan empu dari segala empu (ini anak ngomong apa?) hingga akhirnya bisa mendapatkan wangsit untuk mengerjakan semua soal dengan lancar. Bohong kok. Sebenarnya untuk beberapa soal aku cukup kebingungan.
Besoknya hasil test langsung dibagikan. Seperti biasa aku selalu aja deg-degan menunggu hasil test. Padahal sewaktu test cukup yakin kalo bisa mengerjakan dengan baik. Tapi kalo soal nunggu hasil itu cerita lain. Walau test kecil tapi tetap bikin jantung jalan gak beraturan.
Guruku: “Nilai tertinggi di kelas… Ika!”
Teman-temanku: “Woouuuaaaa. Dia lagi!”
Kali ini aku gak berkomentar, cuma senyum-senyum saja. Maaf ya, jangan benci aku cuma karena aku rajin belajar haha.
Guruku: “Kamu dapat skor 98%.”
Yeah, kali ini skorku lebih tinggi dari sebelumnya (jumlah soalnya juga lebih sedikit dari sebelumnya kok LOL). Dari 51 soal, jawabanku yang benar ada 50. Jadi cuma salah satu doang. Dapat note ‘fantastisch’ lagi dari ibu guru. Sempat-sempatnya terbersit di pikiran, kalau saja aku bisa mengerjakan semua soal dengan benar pasti bisa dapat 100%, bukannya salah satu gini. Tapi ya udah lah ya, ini juga aku udah senang banget rasanya.

