Kemarin genap 100 hari Ibuku wafat, perasaanku campur aduk. Hari ini di rumah Medan diadakan acara pengajian, yang diundang rombongan pengajian dimana ibuku dulu bergabung. Aku selalu ingat ibuku itu terkenal sebagai seorang yang aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi. Belum lagi dengan karirnya sebagai guru, beliau selalu dikenal dimana-mana. Aku masih ingat ada suatu masa dimana dalam satu minggu ibuku selalu sibuk beraktifitas. Senin ikut pengajian gabungan, Selasa ikut perkumpulan Dharma Wanita, Rabu ikut PKK, Kamis ikut pengajian mingguan, Jumat juga ikut perwiridan, Sabtu dan Minggu aja yang senggang.
Setiap habis shalat subuh, Ibuku pasti olahraga. Ibuku hobi menyanyi, menyanyi paling sering dilakukannya sewaktu memasak. Setelah ibu wafat, gak ada lagi yang suka nyanyi. Rumah jadi sepi. Aku ingat hari saat aku tiba di Medan, malamnya aku gak bisa tidur. Karena tidur di kamar Ibuku, aku ga percaya kalau Beliau udah wafat. melihat bajunya masih tergantung di kamar, kacamatanya masih terletak di meja. Tas yang biasa dipakai buat mengajar dan mengaji, … semuanya bikin nafasku sesak. Aku keluar dari kamar, duduk di ruang TV. Diam buat beberapa saat. Waktu itu aku ingin menangis, tapi gak bisa.
Beberapa minggu setelah Ibuku meninggal, keponakanku yang umurnya 5 tahun ngomong:
“Tante, waktu nenek masih dibaringkan di rumah, kenapa Tante gak ada di sini?”
Rasanya hampir nangis, tapi aku berusaha menahan dan jawab:
“Tante waktu itu sedang di pesawat dari Swiss ke Medan. Dari Swiss ke Medan itu jauh. Tante mau ada di Medan dekat nenek, tapi Tante gak bisa.”
Keponakanku cuma bisa ngeliatin aku, kami berdua sangat sedih.
Sebulan setelah aku kembali ke Zurich, aku mimpi Ibuku. Aku gak ingat jelas isi mimpinya apa, tapi yang kuingat Ibuku berbaring dan aku mau menutupi badannya supaya gak kedinginan.
Aku ngomong, “Aku selimuti Ibu ya.”
Ibuku gak bicara, dia cuma mengangguk dan senyum.
Waktu terbangun, nafasku sesak dan air mata udah membanjiri baju dan bantal. Aku sedih, karena aku belum bisa membuat ibuku bahagia.
Sekarang senyum itulah yang tetap kuingat. Mom, I really miss you.