*) Kedutaan Jerman
Aku nulis judul di atas pakai bahasa Jerman bukan karena mau sok pinter, bukan juga karena mau pamer, tapi karena kesal!!!! Sumpah, terlalu kesal. Benar sekali tebakan kalian, semua hal ngeselin ini berhubungan dengan permohonan visa Schengen. Mau tau kelanjutannya? Gak dijawab juga bakalan aku tulis dengan lancar.
Okay, setelah ‘diceramahi’ pegawai urusan visa lewat telepon, akhirnya aku bisa dapat Termin (appointment) jam 10:00 pagi di Kedutaan Jerman di kota Bern. Aku naik kereta dari Zurich jam 8 pagi. Semalaman gak bisa tidur karena mikir, gimana kalo prosesnya gak lancar? Kalo permohonan visa gak dikabulkan berarti harus ganti jadwal acara keluarga lagi. Membayangkannya aja udah bikin sakit perut.
Setelah naik kereta sejam dari Zurich, akhirnya aku sampai di kota Bern. Sempat mutar-mutar nyari stasiun bus yang agak membingungkan. Udah lama gak ke kota Bern, sekalinya ke Bern dalam suasana ‘berkabung’ kayak gini. Jam 09:20 aku sudah sampai tepat di depan gerbang kedutaan. Petugas security udah nungguin lengkap dengan metal detector. Tas juga dokumen yang kubawa diperiksa, untungnya petugas security gak belagu jadi semuanya lancar. Petugas ngasi aku secarik kertas nomor antrian. Nomor: 85! Udah siap-siap dari subuh di Zurich masih juga dapat nomor antrian 85?! Itu yang dapat nomor antrian 01 apa dia tidur di depan gerbang kedutaan kayak ngantri film Star Wars atau gimana?!
Lalu sesudahnya adalah proses yang paling lama: menunggu. Kulihat antrian sudah mengular panjang dari luar gerbang kedutaan dan barisan mulai bergerak sangat lambat. Akhirnya antrian bergerak ke arah sebuah ruangan di dalam kedutaan. Di ruangan itu terdapat sejumlah kursi. Setengah jam kemudian akhirnya aku bisa duduk di kursi. Di dalam ruangan itu aku bisa lihat sejumlah counter berderet. Di setiap counter ada petugas yang menangani setiap orang yang apply visa Schengen. Sejujurnya mereka lebih terlihat seperti mau mengeksekusi sih, sorry to say tapi mereka kelihatan galak semua. Sebagian pemohon kelihatan gak bawa dokumen lengkap dan langsung disuruh untuk bikin janji lagi untuk antar dokumen langsung. Back to square one.
Makin lama menunggu, hatiku terasa semakin ciut. Apalagi lihat banyak muka-muka kecewa sesudah berhadapan dengan para petugas di situ. Wajah mereka gak ada yang bahagia, malah pada ngeluh. Lalu bel berbunyi. Di papan antrian digital terlihat; Nomor 85, Counter 5. Masuk ke ruangan counter, aku menyerahkan dokumen. Si ibu petugas make kalung batu gede banget, hampir nyaingi besar kepalanya.
Ibu Petugas: “Anda bisa berbahasa Jerman?”
Aku: “Ein bisschen.”
Lalu dia ngomong dengan cepat. Gaya ngomongnya bukan kayak melayani atau memberi informasi tapi lebih kayak mau ngusir. Sialan, sepagi ini aku rasanya pingin ngajak berantem orang. Masalah timbul karena izin tinggalku di Swiss yang hampir habis masa berlakunya bulan Desember (bulan depan). Expiry date izin tinggalku adalah tanggal 15 Desember 2007. Peraturan kedutaan tidak bisa issue visa di masa tenggang waktu tersebut yaitu sebulan sebelum izin tinggal expiry date. Si petugas bukannya ngasi informasi dengan baik tapi malah mengomeli aku yang sudah pasti belum tahu semua peraturan tentang izin tinggal.
Si ibu petugas masih juga ngomong, aku cuma diam. Lagian kalau buka mulut apa bisa ngubah isi peraturan kedutaan? Bisa ngediemin mulutnya wanita ini aja rasanya udah syukur. Doaku gak terkabul, dia buka mulut lagi lalu ngomong kalo visa bisa issued, kalo aku memperpanjang izin tinggalku. Ini berarti harus lapor ke Kreisbüro dan ke kantor imigrasi lagi. Ngebayanginnya aja udah gak mood. Saat itu aku cuma bisa ngomong dalam hati, “Tuhan kenapa kau ciptakan sebuah tempat menyebalkan ini lengkap dengan wanita berkalung besar di balik counter? Kenapa?”
Si petugas ngomong lagi kalau aku harus memperpanjang izin tinggalku terlebih dulu baru sesudahnya bisa datang lagi ke kedutaan untuk mengajukan permohonan visa. Semua dokumenku ditandatangani yang berarti kalau semua berkas sudah diperiksa dan disetujui. Lalu dia nulis sesuatu di kertas, menandatanganinya lalu menyertakan kertas itu di dokumenku. Dia menjelaskan kalau aku harus bawa kertas ini ke kedutaan di Termin mendatang. Jadi kertas itu semacam ‘golden ticket’. Jangan dikira cuma talent show aja yang punya golden ticket, institusi kayak gini juga punya. Aku ngelihat lagi kertas yang ditandatangani, si ibu petugas tadi ngomong kalo tanggal yang dia tulis di kertas itu bakal jadi pertanda kalo proses seharusnya lebih lancar karena aku tinggal melengkapi dokumen aja.
“Silakan, pintu keluar ada di sebelah sana…”
Gak kok dia gak ngomong kayak gini. Kalo sempat aja dia ngomong gini, pasti udah mau ku…..(isi titik titik sendiri). Huh. Yah, bisa ditebak dengan mudah: permohonan visaku ditolak! Keluar dari gerbang kedutaan, tanpa sadar aku ngucapin, “This B…..!”
Okay, gak perlu dilanjutin lagi kata tersebut. Sebenarnya aku ngomongnya pake bahasa Jerman, udah hampir gak peduli lagi memaki di luar gedung kedutaan. Sumpah aku gak pernah memaki sekasar itu tapi waktu itu rasanya udah gak tahan lagi. Aku sangat yakin kalau timbangan dosaku makin bertambah banyak sejak keluar dari Kedutaan Jerman.
Dua hari berikutnya aku berangkat ke kantor imigrasi di Zurich. Untungnya gak harus naik kereta sejam dan gak buang duit buat ongkos lagi. Datang ke imigrasi tanpa ngerti harus gimana caranya, cuma bermodalkan nekad, tekad dan tebal muka. Sesampainya di sana, aku kembali antri giliran tapi tentunya bukan antrian ala nonton konser Metallica seperti di kedutaan.
Tiba giliranku untuk ngomong ke counter. Sang petugas gayanya gaul banget. Beliau ngomong kalo aku harus ke Kreisbüro dulu lalu minta formulir perpanjangan izin tinggal dan balik ke kantor imigrasi lagi. Baiklah, gak salah kalo tadi modalku datang ke imigrasi dengan menyertakan unsur tebal muka, terbukti aku mesti tahan malu karena bolak balik lagi. Dengan patuhnya aku balik ke Kreisbüro. Untungnya dapat petugas yang baik banget, sabar ngasi informasi bahkan sedikit menyabarkan. Hampir berasa lagi dengarin ceramah Ramadhan. Saat itu aku mikir, kalo ada aja orang Jerman ngeluh ngomong bahwa orang Swiss itu sombong, pasti bakalan langsung kubalas,
“Hello?! Mau lihat buktinya? Barang bukti udah valid mulai dari Exhibit A sampe Z juga aku punya.”
Keluar dari Kreisbüro dan setelah dapat ‘siraman rohani’ dari pegawainya, hati jadi lebih tenang. Selanjutnya aku balik ke kantor imigrasi lagi, kembali dilayani oleh petugas gaul tadi. Dengan santai tapi tetap bekerja efektif, dia tangani dokumenku dan… return visa Swiss-ku akhirnya issued.
Hebat!
Aku udah tinggal di Swiss setahun lebih, udah ngantongi izin tinggal seri B yang berarti aku bisa melenggang dengan anggun dari mulai kanton Schaffhausen ke kanton Tessin, dari kanton Genève ke kanton Graubünden tanpa takut dikejar polisi karena dikira imigran gelap dan sekarang aku harus ngurus untuk punya visa Swiss lagi! Benar-benar hebat! Bener yah, seumur hidupku ga pernah ada satu pihak pun yang pernah bikin hidupku sengsara kayak gini selain kedutaan Jerman! Untungnya (lagi-lagi) petugas imigrasinya baik banget, dia ngasi visa yang berlaku sampai akhir tahun.
Okay, satu tahap udah terlewati! Keluar dari kantor imigrasi aku berasa menamatkan level game. Berikutnya tinggal mengatasi para petugas kedutaan aja. Harus mikir pake jurus apa aja ntar buat melatih kelancaran berbicara. Mungkin sehabis menghadapi petugas di kedutaan, mungkin aku bakalan bisa hadapi ujian bahasa Jerman apapun. Mungkin saat itu mukaku udah mirip Chinmi yang bersiap hadapin musuh (pada baca Kung Fu Boy gak sih kalian semua?).
Hari Senin aku berangkat lagi ke Bern. Pagi buta, lagi! Aku agak kurang tidur karena malamnya harus buat PR dan ngulang pelajaran. Sesampainya di Bern lebih cepat daripada minggu lalu. Untungnya sudah tahu jalan naik bis dan akhirnya tiba di kedutaan. Baiklah, Chinmi. Ini adalah misimu. Lah kenapa jadi Chinmi?
Tahap pertama
Security checking dengan petugas laki-laki.
Tahap kedua
Pemeriksaan dokumen dengan petugas security wanita yang hampir aja kulemparin pakai sepatu boots-ku saking menyebalkannya.
Tahap ketiga
Dapat nomor antrian: nomor 75. Minggu lalu dapat nomer antrian 85. Yak, paling tidak ada kemajuan dalam masalah nomor antrian.
Tahap keempat
Nunggu dan nunggu lagi. Di tahap ini aku udah ga mood mikirin visa, justru mikirin hal lain seperti soal PR-ku yang belum selesai lalu nanti aku mau makan siang dimana sehabis dari sini. Udah malas mikir, mau mereka terima atau tolak permohonan visaku, terserahlah. Petugas mana yang bakal berhadapan denganku, aku gak peduli lagi! Aku udah kerjain semua apa mau mereka. Kalo ditolak juga, bener-bener keterlaluan!
Tahap kelima
Bel berbunyi. Di digital board tertulis: nomor 75, counter 2.
Tahap keenam
Aku masuk dengan muka super blank, siapa pun yang bakal ku hadapi di counter, aku ga peduli! Okay, kali ini aku gak mau pake bahasa Jerman! Pokoknya aku mau pakai bahasa Inggris saat menghadapi petugas. Mukaku masih blank ketika berhadapan dengan seorang petugas lelaki berkacamata di balik counter.
Tahap ketujuh
Dokumen kuserahkan. Si petugas berkacamata meriksa dokumenku. Baru aja nih aku mau bernapas di situ, dia udah marah. Baiklah demi kebenaran, kita sebut aja namanya si Petugas Bangsat (PB).
PB: “Anda gak punya Termin hari ini!”
Aku: “DOCH!!” (tanpa sengaja malah aku berbahasa Jerman, padahal tadi niatnya mau pake bahasa Inggris) “Minggu lalu kolega Anda bilang kalo saya boleh datang kapan saja! Dia malah menyuruh saya menulis sendiri tanggal berapa saya mau datang.”
PB: “Tapi Anda benar-benar gak ada terdaftar untuk Termin hari ini. Hari ini bukan tanggal 22 Oktober, hari ini tanggal 29 Oktober.
Aku: “Anda lihat dong tanggal dan apa yang tertulis di kertas itu!!!”
PB: “Oh,” Dia salah tingkah setelah baca berkas dan kertas yang ditulis petugas minggu lalu. “Maaf, saya yang salah.”
Tau gak kenapa dia marah? Karena di lembaran ‘golden ticket’ itu tertera tanggal 22 Oktober, padahal si ibu petugas nulis tanggal saat dia menandatangani dokumen sewaktu aku ke counter-nya minggu lalu dengan maksud bahwa dokumen sudah diperiksa dan disetujui. Si bangsat ini aja yang asal liat tanggal langsung mau marah sama aku. Dia kira aku takut apa? Aku gak takut! Buktinya dia kubentak balik. Makanya jangan sok hebat mentang-mentang jadi petugas kedutaan, udah dia yang salah liat tanggal mau asal marahin pula.
Sekarang kita semua tau salah satu alasan kenapa di setiap counter dipasangi kaca tebal. Karena kalo nggak muka mereka udah babak belur. Sewaktu dia marah gitu rasanya pingin kulempar aja mukanya pake kamus bahasa Jerman karangan Adolf Heuken yang ada di tasku. Aku ke kedutaan bawa kamus karena habis dari sini aku harus naik kereta sejam balik ke Zurich, makan siang entah di mana, lanjut ngerjain PR dan berangkat sekolah. Aku bukan cuma stress hadapin petugas ini, tapi juga mikirin gimana supaya aku bisa ngerjain semua tugas tepat waktu dan gak telat ke sekolah.
Proses selanjutnya cuma ngisi formulir yang menyatakan tidak terlibat kriminalitas, terorisme, dsb. Walau cuma ngisi formulir singkat, rasanya saat itu kesal banget. Selama aku ngisi formulir itu, aku bisa ngedengar suara si ibu petugas yang nangani dokumenku minggu lalu lagi berkoar-koar di counter 5. Bener deh, aku ga mau jadi orang yang lagi berurusan dengan si ibu petugas itu. Horror, man.. horror! Okay, di satu sisi aku juga cukup mengerti karena mereka harus dealing dengan begitu banyak manusia yang seringnya justru gak bawa dokumen lengkap. Harus berhadapan dengan orang-orang seperti itu on a daily basis. Asal tahu saja banyak sekali yang masih nekad untuk datang ke kedutaan tanpa dokumen lengkap dan berharap bisa dapat visa. Di satu sisi aku mengerti mereka mengamuk, tapi giliran di bagianku memang kesal banget pas mengalaminya.
Keluar dari kedutaan, aku masih juga masang muka marah saking kesalnya. Aku melirik bangunan kedutaan sebelum pergi dengan perasaan kesal, jarang ada suatu tempat yang bisa bikin aku kesal berkali-kali. Dalam hati masih ngedumel, aku gak segoblok itu sampai permohonan visa ditolak dua kali, yang ada malah aku yang marahin petugasnya. Gak sia-sia aku dari Medan (gak ada hubungannya memang, tapi ya udahlah).
Sampai hari ini, tanggal 7 November 2007 pasporku belum dikirim balik dari kedutaan Jerman. Memang butuh waktu dua minggu untuk visa issued atau jangan-jangan fotoku segitu cantiknya sampai disimpan lama sama kedutaan Jerman? Yah, alasan kedua mengkin lebih tepat! Sekedar info aja dokumen yang kubawa itu (yang udah beratin tasku) sebagian malah gak disentuh sama petugasnya. Ini yang terakhir kalinya aku mau apply visa ke sana! Kalo ada suatu hari nanti orang Jerman yang complain tentang negara Swiss atau tentang penduduk Swiss, mungkin aku bakal cerita balik tentang kejadian permohonan visaku ke kedutaan Jerman.