
Tiap bulan sekolahku mengadakan Ausflug (Outing) alias jalan-jalan. Kebetulan di bulan November lalu kami baru mengunjungi Glasi Hergiswil yaitu glass manufacture di Hergiswil. Terus terang aku bersemangat mendengar tujuan Ausflug kali ini yang terletak di Hergiswil. Pasti bakalan seru dan menarik. Aku sempat menyangka kalo Hergiswil itu ga jauh, kukira paling sekitar 20 menit naik kereta. Tapi pabrik itu terletak di Kanton Luzern dan kami harus naik kereta sekitar sejam.
Pada hari H, kami janjian di Zürich Hauptbahnhof jam 09:30 pagi. Kebetulan yang ikut acara jalan-jalan gak cuma kelasku tapi juga kelas sebelah. Di kereta yang kami naiki ternyata gak cuma kami yang perginya serombongan tapi ada juga rombongan murid sekolah (seumuran anak SD). Rame banget. Saat itu rasanya aku berubah jadi produser yang lagi menggarap reality show berjudul Mudik Mendadak. Kupingku serasa sakit sewaktu melewati murid-murid sekolah jejeritan di kereta. Belum lagi gak jauh dari kami duduk sekumpulan ABG yang lagi sibuk membahas musik hiphop mana yang lagi ngetrend sekarang (pastinya mereka sambil mendengarkan musik yaa), pffff. Mana sewaktu di kereta aku harus menerima telepon penting, akibatnya aku harus berteriak sambil ngomong. Mimpi buruk banget naik kereta itu.

Sesampainya di Glasi Hergiswil, kami masuk dan kunjungan dimulai dengan mengikuti presentasi museum gelas yang disajikan secara interaktif. Di ruangan yang gelap pengunjung dipandu dengan berjalan mengikuti dengan cahaya lampu yang menyala redup di antara kegelapan. Setelahnya kami juga melihat langsung para pekerja yang sedang memproduksi gelas dari lantai atas. Selama menonton para pekerja sibuk bekerja memproduksi gelas aku sempat berpikir, apakah mereka mencintai pekerjaannya? Halah, banyak cerita. Yang pasti karena mengunjungi pabrik ini mau gak mau pengetahuanku bertambah yaitu, bikin produk gelas dan sejenisnya itu susah sekali.
Salah satu yang menarik perhatian adalah pojok dimana kira bisa membuat produk gelas sendiri yang akan dipandu oleh para pekerja di sana. Melihat ini ada beberapa orang temanku jadi penasaran. Mereka sangat bersemangat mendekat ke pojok itu dan begitu melihat ada tulisan yang tertera kalo membuat produk gelas sendiri harus bayar CHF 15, niat mulia itu pun buyar.

Selesai berkeliling, kami minum hot chocolate di café sebelah museum. Café ini bisa dibilang satu-satunya tempat untuk bisa duduk di situ dan para pengunjung mau gak mau harus mengeluarkan uang untuk beli minuman di situ. Suhu hari itu sangat dingin. Selama minum di situ terbentuklah beberapa kubu yang terbagi dalam beberapa meja dan digolongkan menurut kebangsaan. Selanjutnya kami mengunjungi toko souvenir yang menjual barang-barang hasil produksi mereka. Kebanyakan produk-produk tersebut adalah pajangan yang punya potensi besar untuk jadi sarang debu.

Akhirnya kami balik ke Zurich, naik kereta lagi. Sesampainya di stasiun, guruku ngomong kalo dia mau nyari tas di pusat kota. Akhirnya beberapa teman sekelasku ada yang mau ikutan jalan-jalan termasuk aku dan kami pada window shopping. Tas yang dicari ga ketemu tapi guruku malah beli yang lain. Aku juga yang tadinya gak niat belanja tapi begitu lihat ada cape coat yang sale 50% langsung gak kuat iman. Sudah bisa ditebak bahwa imanku lebih tipis daripada kertas. Alhasil pulang dengan menenteng tas belanja, menahan diri dan cuma berani belanja itu doang. Selebihnya cuma mengabaikan saja mau itu sale 50% atau 70%. Sehabis dari acara belanja aku serasa kayak pendekar yang baru saja menang dalam pertempuran, jalan terus dan meninggalkan medan laga.