Tanggal 2 April 2008.
Mungkin itu adalah salah satu hari yang tidak akan kulupakan seumur hidupku. Adalah hari dimana semua kesedihan seperti menyatu di dalam diriku. Berita apa lagi yang paling menyedihkan selain tahu kalau ibumu meninggal dunia?
Aku panik, menangis dan tak tahu mau berbuat apa. Sudah terlalu bingung buat mengurus dan booking tiket. Salah satu airline yang terbang dua kali sehari dari Zurich ke Singapore adalah Singapore Airlines. Kedua kakakku berbaik hati berangkat dari Zurich Airport supaya bisa berangkat bersama denganku. Dari Jerman mereka naik mobil ke Swiss. Itu memang pilihan terbaik, aku tak bisa membayangkan bagaimana panik dan bingungnya terbang sendirian di kondisi begitu.
Kami berangkat sekitar jam 22:00 dari Zurich. Perjalanan di pesawat terasa sangat panjang. Di pesawat aku merasa susah beristirahat. Sewaktu jam tanganku menunjukkan pukul 08:00 pagi waktu Swiss saat kami masih berada di perjalanan, aku cuma bisa menghela nafas. Ini adalah saat Ibuku dimakamkan. Sedih rasanya tak bisa memeluk, mencium, memandikan dan menshalatkan beliau sebelum pemakaman.
Pesawat terbang seolah merambat, seperti tak bakal sampai. Mungkin itu adalah perjalanan terpanjang dan terlama yang pernah aku alami seumur hidup. Aku hampir tak bisa tertidur, padahal biasanya jika aku naik penerbangan malam pasti lebih banyak tidur dan cuma bangun sewaktu cabin crew mengantarkan makanan dan minuman. Tapi kali ini aku susah memejamkan mata. Antara tidak begitu mengantuk tapi juga sadar bahwa badanku butuh istirahat. Belum lagi semua makanan yang ditawarkan rasanya tak bikin selera.
Perjalanan sekitar 12 jam dari Zurich ke Singapore dengan waktu transit tiga jam di Changi Airport sebelum melanjutkan dengan penerbangan ke Medan. Sesampainya di Polonia Airport, udara lembab dan panas bikin aku makin suntuk. Kami dijemput salah satu kakakku dan keluarganya. Sesampainya di rumah, aku lihat Papaku berjalan ke arah kami bertiga. Kedua bahunya seperti kelihatan makin mengecil. Tapi sesudahnya aku tersadar, kedua bahu Papaku terlihat mengecil karena mulai saat ini kami semua tidak akan pernah melihat lagi Ibu berjalan di sebelahnya. Ini membuatku makin menangis sewaktu memeluknya.
Keesokan hari kami langsung ziarah. Tanah di makamnya terlihat masih merah dan basah. Lalu hari ini adalah 17 hari setelah Ibuku wafat. Aku bahkan hampir tak percaya kalau beliau sudah berpulang. Sering aku berpikir, mungkin Ibu cuma pergi selama sejam saja, mungkin ke pasar dan sebentar lagi pasti dia pulang. Atau saat kami sekeluarga berkumpul dan mengobrol, tiba-tiba aku tersentak dan bertanya dalam hati,
“Ibu dimana? Kok tidak ada di sini ikut mengobrol dengan kita?”
Bahkan kadang aku berpikir bahwa beliau akan pulang lalu membuka pintu pagar rumah dengan suara khas langkahnya, terkadang aku seperti menunggunya membuka pintu kamar tidur.
Sungguh sangat sulit menerima kenyataan ini.
Berhubung tidak ada koneksi internet di rumah, aku menulis tulisan ini dari sebuah internet cafe. Saat ini aku harus sedikit menunduk supaya orang-orang tak bisa lihat aku menangis. Di sebelahku ada seorang lelaki, dari tadi handphone-nya berdering terus dan dia bicara dengan suara keras. Ternyata tingkah menyebalkannya tidak bisa bikin airmataku berhenti mengalir.