Tak terasa sudah tiga minggu, lima hari, 16 jam dan 38 detik aku berada di kota Medan. Kesan-kesanku? Yang pasti Medan makin semrawut! Soal cuaca panas tidak usah diceritakan lagi. Tidak perlu juga dibahas tentang displin masyarakat, sepertinya aku bukan ahlinya dan terlalu pusing untuk menceritakannya. Kalian pasti juga tahu maksudku.
Tapi biar bagaimanapun Indonesia emang kaya makanan serta jajanan! Senang rasanya bisa menyantap lagi hidangan seperti lontong, serabi, nasi gurih (nasi uduk) dan kuliner lainnya. Selain makanan, aku juga berburu hal lain di Medan yaitu buku! Dalam tiga minggu aku sudah buat dua menara buku di sebelah tempat tidur.
Istilah ‘menara buku’ itu berasal dari Papaku. Dari dulu aku selalu rutin membeli buku komik dan novel dan punya kebiasaan membaca sebelum tidur. Buku-buku itu kuletakkan saja di sebelahku saat tidur sampai membentuk ‘menara’. Papaku selalu berkomentar,
“Menara bukumu itu sudah tinggi.”
Biasanya aku cuma senyum saja dan mulai membereskan buku-buku. Bulan depannya saat baru gajian, aku kembali membeli buku-buku baru dan membuat menara baru. Sebuah siklus tanpa putus.
Btw, kemarin aku malah iseng sempat beli handphone baru. Handphone lama? Dijual haha. Sebenarnya sayang juga, soalnya handphone lamaku sudah bersamaku menemani perjalananku melanglang buana.
Ada satu event besar di Sumatera Utara yang aku ikuti selama di sini: Pilkada! Rasanya mau ketawa ngakak. Ga tau entah kesambet setan mana tiba-tiba aku mau saja ikutan Pilkada. Berhubung aku masih punya KTP Medan dan juga masih WNI jadi katanya boleh memilih. Kebetulan Papaku salah satu petugas TPS dan duduk di bangku panitia. Saat namaku di panggil, ketua KPPS iseng nanya lengkap dengan logat Medan:
Ketua KPPS: “Anak mana kau, Dek?”
Aku : *senyum cantik* “Tanya aja sama yang di sebelah.”
Ketua KPPS : “Lho, anak Bapak yah?” *sedikit kaget sambil noleh ke Papa yang duduk di sebelahnya*
Papaku cuma senyum doang.
Kesimpulan: aku memang gak terkenal sedari lahir.