Aku mau ucapkan TERIMA KASIH tanpa terbatas kepada semua pihak yang telah memberikan semua bantuan dan support buat kami. Terima kasih karena sudah mau ikut mendoakan ibundaku. Kepada setiap orang serta sejumlah rombongan pengajian yang dengan begitu sabarnya mau ikut mengantri untuk masuk ke kediaman keluargaku dan mendoakan, juga untuk semua yang turut serta menyalatkan dan ikut membantu kelancaran proses pemakaman.
Alhamdulillah acara doa untuk 40 hari berjalan lancar. Walaupun minggu itu sering hujan tapi pada hari H cuaca cerah dan setidaknya sekitar 150-an orang hadir. Terima kasih buat semua yang sudah mendoakan Ibunda kami. Semoga amal ibadah Anda semua diterima Allah SWT. Aamiin.
Finally, I’m back! Tidak terasa akhirnya berakhir juga kunjungan ke Medan. Banyak kejadian di Medan yang tidak bisa aku tulis satu persatu. Sebab itu aku berusaha rangkum lewat foto. Here we go…
1. Ikutan Pilkada

2. Ditraktir teman-teman


3. Papa masuk koran
Gara-gara papaku iseng mengirim ucapan selamat ulang tahun ke sebuah harian surat kabar di Medan, Papaku diwawancarai surat kabar tersebut. BTW, Papaku saat ini sedang berkunjung ke rumah kedua kakakku di Jerman. I look forward to see him again soon.


4. Pohon mangga patah
Pohon mangga keluargaku yang sedang subur berbunga dan berbuah tiba-tiba dahannya patah. Mungkin memang sudah lapuk karena usia. Rasanya sedikit sedih karena pohon mangga ini sudah jadi bagian dari keluarga kami sejak dulu.

Aku sempat deg-degan soal koperku karena kebanyakan belanja buku. Timbangan di rumah rusak dan akhirnya gak jelas berat koperku berapa. Gara-gara ini aku jadi deg-degan mulai dari check-in. Kebetulan para petugas gak ada yang galak, cuma beberapa petugas sempat menanyakan tentang paspor lamaku. Mulai dari petugas check in Silk Air sampai petugas imigrasi pada sibuk nanyain paspor lamaku. Gara-garanya karena mereka lihat pasporku baru, jadi mereka tanya dimana paspor lamaku. Mungkin mereka sedang lakukan tugas pengecekan untuk antisipasi pemalsuan, dsb. Tapi cukup capek jawabin hal yang sama ke beberapa petugas. Selesai prosedur boarding, aku merasa kayak habis main game; Level 1 telah terlampaui. Selanjutnya tinggal duduk manis di kursi pesawat.
Sepertinya bukan aku kalau tidak melalui kejadian penuh clumsiness. Sewaktu menuruni tangga tiba-tiba saja koperku jatuh terguling di tangga sampai pegangannya hampir rusak. Rasanya antara malu dan mau nangis. Perjalanan belum dimulai tapi koper tua sudah rusak. Sesudah jatuh dari tangga, koperku selalu jatuh tanpa sebab, mungkin karena tadinya terbanting lalu rusak dan tidak lagi bisa balanced lagi.
Akhirnya pesawat berangkat dengan tujuan ke Singapore bersamaan dengan bunyi berderit yang kencang saat take off. Aku sampai takut sendiri apa pesawatnya baik-baik saja? Sampai baca ayat kursi dan takut banget. Sesampainya di Changi, aku cari toko duty free buat beli parfum. Ternyata kejadian yang bikin takut saat take-off gak bikin aku tobat untuk mengurangi belanja.
Salah satu hal menyebalkan adalah saat hendak boarding dari Changi adalah perlakuan para petugas yang sangat tidak menghargai para pemegang paspor Indonesia. Perlakuan membentak-bentak para pemegang paspor Indonesia seolah para pemegang paspor Indonesia bermaksud untuk commit crime adalah sangat kejam. Menurutku melakukan kontrol juga tidak perlu membentak para penumpang. Aku juga kena bentak si petugas tadi. Sebabnya karena aku pemegang paspor Indonesia dan return ticket-ku tujuan Zurich. Dia malah membentak tanya mau ngapain aku di Zurich. Hello… Zurich itu tempat tinggalku, bangsat!
Saking kesalnya menghadapi sikap tanpa hormat dari petugas, kakakku nyeletuk sehabis kami diperiksa,
“Di Eropa kita gak pernah diperlakukan kayak begini. Katanya Changi termasuk international airport tapi pelayanannya begini, international airport apaan?!”
Si petugas melototi kami semua karena dengar celetukan kakaku tadi. Lalu aku berdiri tegak dan berjalan ke arahnya sambil melotot balik si petugas lelaki itu. Kita berdua berdiri berhadapan dan aku udah siap banget mau berantem. Dikiranya mentang-mentang aku pemegang paspor Indonesia, terus aku bakalan takut berhadapan dengan dia? Lagian masa cara dia nanyain kita semua yang mau terbang ke Zurich seolah kita imigran gelap. Padahal di pemeriksaan juga ada dilampirkan izin tinggal serta dokumen lain. Memang dasarnya saja si petugas sok jago ini gak punya respect ke orang lain. Memang dikira kami kriminal apa dan kenapa juga mesti dibentak-bentak? Lagian kami semua sama sekali tidak ada langgar peraturan apapun, semua dokumen resmi lengkap. Dia kira aku gak bisa bentak balik?!
Aku masih juga melotot berhadapan dengan si petugas itu dan mukanya sudah marah banget ke aku. Kakakku akhirnya memanggilku dan aku asli jalan mundur sambil tetap ngelihatin itu petugas. Udah mirip kayak scene film mafia sesaat sebelum saling nyerang. Aku sedikit kesal karena dipanggil padahal aku sudah pasang mode siap tempur. Sebenarnya kalo dipikir sekarang ya lucu, tapi saat itu aku udah siap-siap aja mau menghajar itu orang, walau badannya jauh lebih besar daripada aku. Dalam hati aku udah mau ngamuk, rasanya pingin ngomong,
“Kalo di Medan udah kupijak-pijak si keong ini. Woy, matamu!!”
Sebelum masuk pesawat aku ganti baju yang lebih hangat dan selagi menunggu lagi-lagi koperku jatuh untuk kesembilan kalinya. Really, dude?! Lalu aku menunggu waktu boarding sambil mengobrol dengan kakakku. Lagi asyik mengobrol, tiba-tiba ada panggilan,
“Attention to passenger, Mr. Rizka Hardy.”
Aku bengong, dalam hati mikir, kayaknya ada yang manggil namaku deh.
“Once again to passenger Mr. Rizka Hardy.”
Saat itu aku tersadar, “What, Mister?!”
Sambil jalan ke arah informasi, aku mikir kenapa juga mereka manggil namaku? Perasaan ulang tahunku masih beberapa bulan lagi (heh?) atau aku menang kuis? Jangan-jangan aku ga boleh naik pesawat? Atau jangan-jangan aku malah salah pesawat? Aku menghampiri counter dan
Wanita petugas informasi: “No, it’s not you.”
Aku sodorin boarding pass dan ngomong, “Its written: MISTER!”
Dia malah ketawa dan ngomong, “Sorry.”
Ternyata aku dipanggil karena layar di seat-ku ga berfungsi. jadi mereka mo nukar seat dengan layar yang berfungsi baik. Kukira tadi ada apaan, bikin panik aja. Okay, pas de problème.. tapi tau gak tadi elo elo semua udah mempermalukan gue di depan semua orang gini dengan manggil Mister! Huh.
Lalu Level 2 bisa terlampai dengan baik. Selanjutnya masuk ke Level 3 yaitu terbang selama 12 jam lebih. Setelah nonton dua film di pesawat dan tidur bangun, tidur bangun, pesawat mendarat di Zurich airport. Tidak pernah aku melewati pemeriksaan semulus ini.
Zurich rules!