Hari 1
Sehabis bertualang di Singapore dan Hong Kong, aku berkemas dan mulai bertolak ke Malaysia. Di pagi hari keberangkatan, supir abangku menjemput untuk bertolak ke airport. Jujur saja tanpa bantuan dan fasilitas dari abangku, pasti aku bakalan kerepotan banget. Makasih buat abangku yang sudah menampung aku selama di Hong Kong. Perjalanan ke Hong Kong Airport sekitar 45 menit, aku jelas aja ga mau sia-siakan waktu. Makanya aku langsung menutup mata dan tidur! Yup… ga usah mengharap aku bakal berubah.
Btw, kayaknya aku lupa cerita kalau di Singapore aku harus bayar SGD 100 di Changi Airport karena kelebihan bagasi. Berbekal pengalaman itu, aku kali ini lebih berhati-hati. Beberapa barang belanjaan yang kubeli di Hong Kong termasuk artwork berserta oleh-oleh aku kirim dengan paket dari Hong Kong langsung ke Zurich. Ternyata biayanya murah banget. Paket yang kukirim beratnya lebih dari 10 kilo dan cuma perlu bayar kurang dari HKD 300 (sekitar CHF 37). Sementara itu biaya pengiriman paket dari Zurich ke Medan dengan berat ga lebih dari dua kilo, silakan menyiapkan uang sekitar CHF 100.
Aku melalui segala macam security check di Hong Kong Airport tanpa hambatan. Setelah melewati duty free, aku merogoh kantongku. Ternyata masih ada sisa uang sekitar HKD 600. Lumayanlah sekitar CHF 60. Tanpa sadar aku senyum dan langsung berjalan ke counter parfum. Habiskan sisa cash buat beli parfum Bvlgari dan sisanya cuma cukup untuk beli fashion magazine. Aku membayar majalah itu seakan besok bakal berjalan dengan stiletto di Paris Fashion Week. Sudahlah uang pas-pasan, banyak gaya pula!
Setelah terbang sekitar empat jam, pesawat akhirnya mendarat di Kuala Lumpur. Baru keluar dari bandara, langsung terasa gerah seperti di sauna. Aku lupa beli tiket buat taksi di dalam bandara, akibatnya aku mesti balik lagi untuk beli tiket dan baru setelahnya ngantri taksi. Akhirnya tiba giliranku dapat taksi. Di dalam taksi aku udah kecapekan dan cuma pingin sampai ke hotel secepatnya. Saat sedang melamun di perjalanan ke hotel, tiba-tiba aja terdengar suara keras. Ternyata si supir taksi bersendawa. Kali ini bahkan rasanya terlalu capek untuk pingin ketawa atau pingin kesal.

Taksi sampai di sebuah hotel di pusat kota Kuala Lumpur. Kali ini aku dapat kamar dengan fasilitas jauh lebih baik dari hotel di Singapore, bahkan lengkap dengan dapur mini dan space untuk meja makan beserta kursi-kursinya. Temanku di Singapore juga kasi rekomendasi bar & lounge yang dia kunjungi beberapa kali di Kuala Lumpur. Ternyata bar & lounge itu letaknya di rooftop hotel ini. Jadi ga sabar mau mengunjungi.
Setelah berberes koper dan mandi, hari sudah hampir gelap. Tadinya aku sok pingin menjelajahi area di dekat hotel, ujung-ujungnya aku terdampar di sebuah gedung-entah-apa dan dalam puncak kelaparan aku makan di salah satu restoran di sana. Jangan tanya apa nama restorannya, aku ga ingat! Di situ aku pesan menu Nasi Rendang (giliran nama menunya ingat). Sehabis makan aku balik lagi ke hotel dan langsung menuju ke level teratas. Ya benar, aku mau nyobain bar di atas. Sesampai di atas, ternyata aku bukan cuma dapetin bar plus kolam renang yang jadi centerpiece di rooftop, tapi juga view ke Petronas Twin Tower dan KL Tower sekaligus.
Hari 2
Sehabis sarapan aku berangkat ke Petronas Twin Tower. Niatnya sih pingin naik ke skybridge tapi ternyata aku melakukan kesalahan fatal dengan berkeliling di mall dulu baru ke counter skybridge. Malah belanja pula. Sesudahnya aku baru ingat tujuan awal mau ke skybridge. Sesampai di counter, pegawainya menjawab,
“Sudah tutup, soalnya gratis jadi tiket cepat habis.”
Bagus! Semua kejadian ini terjadi karena ga ada persiapan dan juga tanpa nyari informasi.
Intinya: salah sendiri.
Ujung-ujungnya sepanjang hari aku cuma ngelilingi mall di sana.
Balik ke hotel rasanya capek banget lalu aku tidur bentar. Bangun tidur aku langsung mandi dan bersiap-siap nyari makan malam dan setelahnya mengunjungi rooftop bar (lagi!). Kali ini suasana lebih meriah karena katanya ada Halloween party. Para pegawai di lounge berdandan seram (yang kupastikan lebih menakutkan daripada hantu aslinya). Salah satu waitress berdandan gaya kuntilanak yang ternyata cukup bikin seram. Waitress yang kemarin ngelayani aku, malam ini dandan pake baju hitam plus kerudung. Aku jadi ingat urban legend Mariam Jembatan Ancol.
Malam itu aku nyadar akan satu hal: party di situ ternyata membosankan dan garing! Bayangin saja mereka udah undang tiga DJ dari Indonesia (kalo ga salah salah satu namanya DJ Devina, aku kebetulan kurang tahu). Dari jam 9 malam sampai dini hari musik udah pas banget buat party, tapi gak ada yang nari. Lebih kayak pasif gitu. Entah pasif, entah malu, entah memang kayak gini party mereka. Kalo gini ceritanya, buat apa juga undang DJ impor? Tiga orang pula. Akibatnya semangatku buat party jadi turun drastis. Ini sih namanya seperti nongkrong di café, bedanya cuma musik yang lebih energik. Setelah mennunggu sebentar dan ga da perubahan, aku balik ke kamar dan tidur.

Hari 3
Pagi hari selesai sarapan aku bersiap-siap ke Twin Tower secepatnya. Sesampainya di sana, gila antrian sudah panjanggggg banget! Sekitar sejam aku harus berdiri mengantri untuk dapatin tiket dan tiket itu ternyata buat kunjungan jam 12:15 siang. Ya sudahlah, terima nasib.
Berhubung masih ada waktu sebelum naik ke Skybridge, aku balik ke hotel (yang untungnya dekat ke Twin Tower) dan langsung check out. Setelah titipin barang di concierge dan pesan taksi buat ke airport jam 15:00, aku balik lagi di mall. Jam 12:15 akhirnya tiba juga giiranku naik ke Skybridge. Sempat kukira bisa agak berlama-lama di atas, ternyata cuma dapat waktu 10 menit. Beda tipis dengan pergi ke toilet. Menuju ke Skybridge para pengunjung akan naik elevator super cepat sekitar lima sampai enam meter per detik. Di dalam elevator ada pemandu wanita yang dengan wajah malas-malasan. Dia seperti ga ada niat mau kasi informasi ke turis, dengan ekspresi setengah ga rela dia ngomong tentang kecepatan elevator itu (yang kebanyakan kita juga udah tahu juga), lalu dia bertanya,
“Any questions? You have time 23 seconds.“
Rasanya hampir nyeletuk, “Heh, are you nuts?” Informasi macam apa yang bisa kudapat dalam waktu 23 detik dari pegawai yang ga niat kerja Duh, nggak deh makasih.


Kelar kunjungan ke Skybridge, rasanya lapar. Dimana-mana restoran penuh terutama di area food court. Di tengah keterpaksaan aku makan di Burger King. Mungkin karena aku kurang prepare karena akhirnya gak ada kenangan restoran asik di Malaysia (kecuali restoran di hotel pas sarapan) *sigh*. Jam setengah 3 sore aku balik ke hotel, nunggu di lounge dan akhirnya berangkat ke airport menuju Medan.
Nah, apa kesimpulan dari liburan di Kuala Lumpur?
1. Liburanku di KL ternyata cuma berkisar: hotel, Petronas Twin Tower dan rooftop bar. Ck ckk..
2. Bau sampah.
Ini mungkin kebetulan dan aku sama sekali ga bohong. Selama aku di Kuala Lumpur, sepanjang jalan dari hotelku di Menara PanGlobal sampai Twin Tower, bau sampah ampun-ampunan! Sementara di sepanjang jalan itu terpasang papan bertuliskan: ‘Kebersihan Kuala Lumpur adalah tanggung jawab kita bersama’ atau ‘Sayangi Kuala Lumpur’. Ngebacanya aku pengen ketawa. Mungkin saja bau sampah itu cuma beberapa hari, tapi beneran bau banget, sampai pingin muntah! Maaf ya buat yang tinggal atau cinta dengan Malaysia.
3. Party-nya garing! Haha.
hehe . k malaysia ya 😀 pupuy lg study d malay nii .
LikeLike
pupuy >>eh iya hehe. tp liburannya cuma 2 hari :(asik dong study di sana 🙂
LikeLike
hahaha kayaknya emang kamu yang kelihatan paling niat party ya ka? :p
LikeLike
stephanie zen >>huahahhaa.. jd malu saya 😀
LikeLike