Tanpa terasa sudah beberapa hari bersama keluarga dan teman-teman di Medan. Hari berlalu sangat cepat dan aku harus kembali berkemas, kali ini menuju Bali. Aku naik penerbangan yang transit di Jakarta. Btw, cuma mau kasi info bahwa sejujurnya aku belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta dan pertama kalinya terbang ke Jakarta cuma di airport doang. Okay, puas kalian semua ngejekin aku?!
Aku naik penerbangan super murah yang namanya gak usah disebut lagi (you know what it is and you know how much my budget is). Lalu apa kesanku selama penerbangan dari Medan ke Jakarta dengan maskapai tersebut? Begini, aku ga bermaksud menjelekkan nama maskapai ini. Tapi masa sih sewaktu salah satu cabin crew cewe memulai pre-flight annoucement untuk menjelaskan tata cara pemakaian pelampung, dll., dia hampir ketawa dan cekikikan. Professionalism at ‘its best.’
Jadi si oknum cabin crew alias the culprit ini bicara sambil menahan ketawa. Kadang dia berhenti bicara sebentar lalu mulai melanjutkan berbicara dengan nada sedikit dipercepat. Cara bicaranya dipercepat mungkin tujuannya supaya pengumumannya cepat selesai. Padahal semua penumpang sudah sebal serta mulai ngedumel karena ketololannya. Hal menyebalkan lainnya terjadi saat aku hampir ketiduran, tiba-tiba salah seorang cabin crew ngomong:
“Para penumpang yang terhormat, para pramugari yang berjalan dan melayani Anda ini juga turut tampil di film ‘Beranak Dalam Kubur’.”
Aku sempat mengira kalau mereka bercanda atau.. apa aku sedang mimpi? Ternyata 20 menit berikutnya pengumuman itu diulangi lagi. Siapa sih yang peduli pramugari lo itu figuran film Beranak Dalam Kubur? Mau beranak dalam kubur, mo nikah massal dalam kubur, bisa ga sih mulut lo semua diam? Sudahlah ga becus kerja, ganggu orang tidur pula. Mending pengumumannya penting juga.
Tujuanku transit di Jakarta juga punya alasan lain yaitu mau ketemuan dengan temanku Milly di Jakarta (atau lebih tepatnya di airport). MIlly adalah temanku dari kelas 6 SD yang belum pernah bertemu secara langsung. Kita cuma surat-suratan dari saat masih bersekolah, share tentang cerita sekolah juga pertemanan. Uniknya lagi walau ga selalu saling berkabar, kita tetap berteman baik sampai sekarang. Mungkin ini adalah salah satu persahabatan terlama yang kupunya di hidupku.
Sewaktu akhirnya kami ketemu, wah ternyata Milly tu orangnya cantik banget! Bukan cuma cantik, tapi juga anggun dan pintar banget. Setelah jumpa Milly, aku jadi menyesali diri sendiri. Kenapa dari dulu aku ga rajin belajar (halah, basi!). Milly datang dengan anaknya yang juga cantik. Milly bahkan kasi aku oleh-oleh, salah satunya baju batik. Thank you, Milly.

Pesawat ke Denpasar masih dalam status delay sekitar 45 menit. Kesal banget menunggu lama dan ga bisa ngapa-ngapain. Rasa kesalku semakin terprovokasi dengan tingkah seorang cewe yang juga ikut nunggu penerbangan yang sama. Cewe ini punya pacar (atau sejenis itu) yang berkebangsaan asing. Mungkin saking bangganya dia punya pacar yang bukan orang Indonesia, maka hebohlah dia di ruang tunggu. Sebentar berfoto dan berpose heboh menjurus ke seronok, sebentar ketawa kencang sambil menggelayut ke cowonya (yah, kita anggap saja itu cowonya, walaupun aku ragu haha).
Penumpang yang sudah kesal karena penerbangan delay jadi makin sebal lihat tingkah si cewe karena dia makin caper dan kalau ketawa sengaja dibuat kencang biar semua penumpang bisa lihat ‘betapa gaulnya’ dia. Rasanya pengen ngelus dada, tapi kok kesannya seolah cewe itu anak kandungku yang durhaka aja. Akhirnya aku cuma diam saja walau sebenarnya pengen jambak rambutnya yang warnanya seperti salah prosedur bleaching. Baru saja aku mikir mau tarik rambutnya, tiba-tiba cewe itu melototin aku. Ada dua dugaan kuat muncul di otakku waktu itu:
1. Ternyata dia psychic jadi tahu kalau aku punya niat mau tarik rambutnya.
2. Dia merasa kalah cantik dari aku haha.
Relax dong mbak, saya sama sekali ga tertarik dengan pacar mbak. DIa bukan tipe saya juga.
Semua penumpang bernafas lega saat ada pengumuman untuk boarding ke pesawat dan seakan semua orang sudah langsung lupa dengan si cewe gaul tadi. Akhirnya pesawat mendarat di bandara Ngurah Rai menjelang tengah malam. Gara-gara pesawat delay, aku sampai di hotel hampir jam 1 pagi. Capeknya udah ga bisa dideskripsikan lagi.

Di Bali aku juga ketemu dengan temanku, Pipiet. Sebenarnya kami berniat ketemu di Zurich tapi ternyata malah berjumpa di Bali. Pipiet, selamat buat beasiswanya! Anyways, kami juga sempat makan malam bareng di sekitaran Kuta.
Aku juga bingung mau cerita apa saja tentang pengalamanku di Bali. Mungkin juga karena aku sudah lupa apa saja yang sudah kulakukan di sana. Salah satu yang kuingat adalah belanja ke pusat perbelanjaan di Nusa Dua, aduh apa ya itu namanya aku lupa. Selain itu aku juga jalan-jalan juga kulineran, ga lupa melihat progress patung Garuda Wisnu Kencana juga ke Uluwatu. Ga lupa sebelum pulang aku juga belanja oleh-oleh.





Sehari sebelum balik ke Zurich, aku menyempatkan makan malam di Restoran Bumbu Bali. Gila, dengan cuma bayar IDR 200.000 (sekitar CHF 13) bisa makan sebanyak itu! Aku bahkan gak sanggup menghabiskan porsinya. Ga nyesel deh makan di sana, apalagi restorannya dekat banget dari hotelku. Ada insiden menyebalkan di Bali. Karena sok-sokan mau berenang sana sini, kupingku kemasukan air. Jadi selama lebih kurang 3 hari kupingku sedikit budeg sebelah. Iya, saya tahu hal ini sangat seksi.




Akhirnya liburan berakhir dan aku harus balik ke Swiss (sebelum nyaris jadi seonggok sampah di Bali). Taksi tiba di bandara Ngurah Rai setelah sebelumnya berhasil menembus kemacetan kota. Setelah antri sejumlah pemeriksaan, dua orang petugas bandara menyilakanku untuk melewati metal detector. Awalnya aku sempat bertanya apa harus buka alas kaki atau tidak. Salah satu petugas sempat menjawab tidak usah. Tapi device berbunyi yang disambut senyuman keduanya. Aku buka sepatu lalu mulai kembali berjalan melewati metal detector yang akhirnya berjalan lancar.
Petugas 1: “Tuh, kalau dibuka sepatunya ga bunyi lagi kan?”
Aku sedikit senyum ke arah kedua orang bapak petugas itu sambil memakai sepatuku lagi.
Petugas 2: “Wah sudah bagus itu warnanya,” beliau berkomentar sambil melihat warna kulit lenganku yang memang terlihat coklat setelah beberapa hari berjalan berkeliling di bawah suhu 36°C
Petugas 2: “Mbak asalnya dari mana?”
Aku: “Saya dari Medan.”
Petugas 1: “Horas!”
Aku: “Saya bukan suku Batak, Pak.”
Petugas 1: “Oh salah ya?”
Aku senyum lagi.
Entah kenapa petugas di bandara termasuk petugas imigrasi di berbagai negara memang suka banget iseng tanya ini itu ke aku. Kadang para petugas imigrasi kelihatan penasaran aku di Swiss ngapain, dsb. Biasanya kalau ketemu petugas yang ramah di Indonesia, aku ga lupa lihat namanya dan sebelum berlalu aku akan ucapkan terima kasih dan menyebutkan nama mereka. Biasanya mereka senang dengar namanya disebut. Yah petugas imigrasi kan juga butuh hiburan ya. Btw, sepertinya orang-orang di Jawa dan Bali masih banyak yang ga tau kalo di Medan itu bukan cuma ada suku Batak doang tapi ada juga banyak suku dan etnis lain.
Aku tiba di Singapore jam 3 pagi. Waktu yang sangat goblok untuk tiba di bandara. Mau cari hotel ke tengah kota kok rasanya buang-buang duit banget. Penerbanganku ke Zurich sekitar jam 22:00 malam nanti. Untungnya di bandara Changi ada Plaza Premium Lounge yang memungkinkan orang buat istirahat sejenak plus mandi. Aku bersyukur bahwa di bandara ada fasilitas kayak gini. Setelah ganti baju tanpa berisik karena semua orang sedang beristirahat, aku mulai tertidur.


Aku tertidur cukup pulas dan terbangun jam 10.30 pagi. Ternyata biarpun sudah tidur beberapa jam, tapi pegal di badan tetap aja ga hilang. Sehabis mandi, cuci rambut, dandan dan titip koper, aku jalan-jalan di airport. Memang, membosankan, tapi aku juga sudah ga ada energi lagi buat ke pusat kota. Jadi di airport saja pun jadilah.
Perjalanan dari Singapore ke Zürich lewat Amsterdam kali ini berbeda. Beda, karena aku ga banyak tidur seperti biasanya. Kali ini aku kebanyakan nonton film daripada tidur. Bahkan aku sempat berpikiran apa mau nonton film sepanjang perjalanan, tapi ternyata gagal. Sesampainya di Amsterdam, hal paling pertama kuburu adalah café. Gila, di Eropa sudah dingin banget. Menunggu penerbangan berikutnya sekitar sejam dan akhirnya bisa mendarat di Zurich yang ternyata lebih dingin lagi!
Apa kesanku selama liburan?
1. Asyikkk! Bisa jumpa keluarga, teman-teman, ditraktir dan dikasi hadiah.
2. Seru bisa mengunjungi berbagai tempat-tempat menarik.
3. Sewaktu teman-teman sekolahku di Zurich lihat foto liburanku mereka berkomentar,
“Kok fotomu kebanyakan dengan makanan dan minuman yah?” Bener juga, aku aja baru sadar haha.
wakakakakak aku baru tau ternyata ada namaku disebut2 di postingan ini :)) emang aku kurang terkenal hahahaha :p iya, syg bgt ya ka kita nggak bs ketemu.. gr2 amrozi cs siaul itu, mau mati aja pake nyusahin org lain, ck! next time yaaaa! x)
LikeLike
@Steph:iya sayang bgt! wah ga tau lg neh kpn bs ke Indonesia lg. pyh klo bokek mulu huuuu…thx y hadiahnya 😉
LikeLike