Sewaktu mendengar berita Papaku berpulang, aku sedang berkunjung ke rumah kakakku di Jerman. Memang benar, kalau ada telepon tengah malam atau menjelang pagi buta biasanya itu sesuatu yang sangat penting dan seringnya berita buruk.
Masih segar di ingatanku rentetan kejadian yang bagai mimpi buruk berkepanjangan. Saat itu sekitar jam 21:00 (jam 3 pagi WIB di Indonesia) tiba-tiba masuk SMS dari salah satu kakakku di Medan yang mengabarkan Papa masuk ke UGD karena sesak nafas. Kakakku dan aku shocked, kami langsung merasa lemas. Terputar kembali kenangan sedih setahun lalu saat ibu meninggal dunia. Aku berada di Jerman karena kakakku berencana mau merayakan pesta ulang tahunnya. Mendengar berita itu kami berdua ga tau mau berbuat apa. Mau tidur gak bisa, mau mengobrol juga perasaan ga enak. Akhirnya kami berdua pergi ke dapur dan… memasak. Yup, memasak. Tengah malam. Sambil menunggu berita dari Medan akan keadaan terkini Papa.
Besoknya walau mendengar kabar kalau dokter mengajurkan untuk tunggu dua sampai tiga hari ke depan sampai kondisi Papa agak membaik, kami masih belum tenang. Bolak balik telepon berdering dan abangku sudah langsung terbang dari Hong Kong ke Medan di pagi itu. Keputusan saat itu adalah Papa bakal dirujuk untuk operasi jantung di Singapore. Aku sudah mulai ga tenang, malam harinya aku mulai packing berjaga-jaga kalau harus berangkat secepatnya ke Singapore.
Aku tidur di kamar keponakanku. Di pagi buta handphone kakakku yang kebetulan tanpa sengaja tertinggal di kamar keponakanku berdering kencang. Aku kaget mendengar suara dering dan sebelum sempat diangkat sambungan terputus. Keponakanku yang juga terbangun lalu ngomong,
“Tante, biar aku yang nanti angkat telepon kalo ada telepon buat Mama.”
Kakakku juga terbangun dan karena sudah gak tenang dia langsung telepon abangku yang sudah berada di Medan. Abangku mengabarkan Papa sedang dalam kondisi koma dan saat itu sedang dilakukan tindakan darurat.
“Sudah gak bisa disembuhin lagi,”
Begitu kata abangku yang berusaha untuk tabah lalu sambungan telepon tiba-tiba terputus. Rasanya saat itu jantungku terasa dihimpit benda besar yang aku bahkan tidak tau itu apa. Perasaan apa yang kamu punya saat tahu ayah kamu sedang koma di rumah sakit sementara kamu sedang berada ribuan kilometer jauhnya?
Tadinya aku sempat cari koneksi kereta ke Zurich. Aku bisa sampai di Zurich jam 13:00 kalau naik kereta jam 10 pagi. Tapi abang iparku langsung melarang. Dia juga melanjutkan bahwa semua (aku dan kakak-kakakku) bakal berangkat bersama. Lalu kami semua fokus bersiap packing dan mengatur perjalanan. Lebih dari 30 menit kami telepon sana sini buat memastikan penerbangan mana yang harus diambil. Penerbangan yang tersedia cuma Singapore Airlines dan KLM. Kalau terbang dengan Singapore Airlines harus bermalam di Singapore karena koneksi ke Medan semua penuh atau pilihan lain adalah berangkat ke Singapore besok. Aku langsung bilang kalo aku mau ambil penerbangan KLM karena aku gak mau buang waktu lagi.
Saat sedang memutuskan, kakakku telepon lagi ke Medan untuk tanya update keadaan Papa. Saat itu kami dengar bahwa Papa udah berpulang. Ternyata setelah sambungan telepon terputus tadi, ga lama setelahnya Papa meninggal dunia. Kakak dan abangku di Medan sudah coba menghubungi tapi tidak tersambung.
Seketika aku merasakan lantai yang kupijak serasa hilang meninggalkanku tanpa fondasi dan aku jatuh ke dalamnya. Perutku seperti dibelah pelan-pelan hingga membentuk sebuah rongga besar. Belum juga setahun Ibuku berpulang dan hari itu kami semua harus melepas Papa selamanya. Kepalaku langsung terasa sakit hampir tak bisa berpikir. Rasa sakit yang tidak bisa terkatakan. Kesedihan tak berujung. Di antara perasaan hampir ambruk, aku mengemasi koperku dan bersiap pergi. Rencana berubah dan kami akan berangkat menuju Medan dari Zurich karena itu adalah koneksi yang terbaik yang bisa didapat dalam waktu singkat. Dari Jerman kami menempuh perjalanan dengan mobil menuju Zurich.
Aku menuruni tangga sambil membawa koperku. Air mata seperti tak bisa berhenti.
“Mom, Dad, I’m coming home.”