Setelah berita berpulangnya Papaku, kami bersiap diri untuk terbang bersama ke Indonesia. Jam 10 pagi kami bersiap pergi menuju Zurich Airport. Selama menjalani perjalanan ke airport dan menunggu boarding, aku merasakan seolah memori 11 bulan lalu saat Ibuku meninggal dunia kembali terputar di ingatan. Mulai dari saat mendapatkan SMS panik dari Papa di pagi buta yang dikirim Papa secara terburu-buru sampai saat mendengar ponselku berdering dan ketika diangkat hanya terdengar suara kakakku yang menangis karena sudah tak sanggup lagi berbicara menyampaikan kabar.
Lalu sekarang aku harus mengulangi hal yang sama pedihnya. Kembali harus ikhlas untuk tidak bisa melihat Papa sebelum dimakamkan. Perjalanan dari Zurich ke Medan dengan rute kali ini hampir 20 jam dan Papa akan dikebumikan saat kami sedang berada di udara. Perjalanan kali ini tak sesantai seperti tahun lalu. Bukan cuma karena beda maskapai dan beda jadwal, banyak juga faktor lain. Mulai dari koneksi penerbangan yang mepet banget waktunya, lalu di setiap airport kami selalu berlarian buat mengejar penerbangan berikutnya. Di Zurich Airport kami hampir ketinggalan pesawat karena sempat terpisah sejenak dengan salah seorang kakakku. Semua dijalani dengan kepanikan dan di bawah tekanan stress.
Penerbangan pertama dengan rute Zurich ke Amsterdam. Setelah sampai di Amsterdam tenggang waktu ke penerbangan berikutnya yaitu ke Kuala Lumpur mepet banget. Kami berusaha menggunakan self check-in untuk issue boarding pass. Di tengah usaha untuk issue boarding pass, aku baru sadar bahwa passport-ku yang dirilis dari Kedutaan Indonesia di Bern masih ditulis manual/tangan yang berakibat pasporku tidak bisa di-scan ke mesin self check-in. Rasanya saat itu mau menangis dan mengutuk bisa-bisanya Kedutaan masih juga mengeluarkan passport jenis begini di saat banyak negara sudah pakai teknologi biometric. Lalu kami menggunakan passport dari salah satu keponakanku dan semua boarding pass pun kami dapatkan dengan mudah. Lalu kami kembali bergegas menuju departure gate dan akhirnya sukses duduk di seat pesawat.
Satu hal yang mau kutekankan: beda maskapai, beda service-nya. Tahun lalu kami cukup ‘santai dan tenang’ karena para cabin crew Singapore Airlines sangat perhatian terutama ke kakakku dan bayinya. Penerbangan kali ini benar-benar cukup membosankan. Gimana gak membosankan, kalo biasanya in-flight entertainment ada di masing-masing seat tapi gak tahu ini pesawat zaman kapan karena in-flight entertainment masa cuma ada beberapa dan layar yang gak seberapa besar itu buat ditonton rame-rame. Terus lo kira kita semua bayar tiket cuma mau nonton layar tancap?! Ga ngerti ini pesawat keluaran tahun berapa. Coba bayangkan saja perjalanan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur itu memakan waktu 12 jam selama itu kami ga bisa nonton film yang kita mau gara-gara layar tancap di udara ini.
Ga tahu gimana, akhirnya kami sampai juga di Kuala Lumpur. Selama perjalanan aku paling cuma bisa tidur, kalau waktunya makan ya ikutan makan, selebihnya setangah nangis dan setengah ngedumel karena dapat penerbangan jelek begini. Hal yang ternyata luput dari perhatian kami semua adalah bahwa kami mendarat di bandara KLIA sementara penerbangan berikutnya ke Medan dari Terminal LCC. M.A.M.P.U.S!
Kami kehilangan banyak waktu karena harus menunggu stroller buat kedua keponakanku. Waktu sudah mepet banget, sementara kami belum juga bergerak dari KLIA. Waktu tanya ke informasi, para petugasnya kaget karena penerbangannya sebentar lagi. Jadi singkatnya ini adalah rute yang harus kami tempuh:
Naik aerotrain – lewati imigrasi – nyari taxi – naik taxi ke Terminal LCC (sekitar 20 menit).
Mau mati ga sih lo?! Aku udah sangat skeptis (juga pucat!) tapi masih berharap pesawat delay.
Naik aerotrain, lewatin imigrasi dan akhirnya kami harus pesan taxi. Setelah ketemu taxi, aku langsung ngomong ke supir taxinya, “Please drive 200 kilometer per hour!”
Supir taxi dan kakak-kakakku pada ketawa. Okay, kalau si supir taxi ketawa aku bisa ngerti tapi ternyata kedua kakakku masih bisa ketawa. Padahal aku rasanya kayak berada di ujung jurang, cuma tinggal didorong aja. Sesampainya di Terminal LCC kami nyari counter maskapai dan counter-nya.. nyaris tutup! Ya jelaslah, kami sudah telat banget. Sewaktu melewati pemeriksaan ada pengumuman pesawat yang bakal kami tumpangi sedang proses boarding. Rasanya aku udah sangat gugup dan ga tahu lagi harus bagaimana cuma bisa berdoa gak ketinggalan penerbangan.
Kami akhirnya bisa boarding dalam keadaan stress dan terengah-engah. Tapi ternyata penderitaan belum berakhir. Kenapa? Karena para pramugari di penerbangan ini banyak yang aneh. Kerja ga becus mana ada yang jutek pula. Bayangkan saja, sudah jelas kakakku bawa balita yang masih harus duduk di pangkuan ibunya saat take off dan landing, para pramugari ga ada yang melayani dan memberi infant seatbelt. Mari kita simak dialog yang terjadi saat salah seorang pramugari dengan make-up tebal melihat kakakku sedang memangku anaknya.
Note: PMT: Pramugari Make-up Tebal, K: Kakakku, A: Aku
PMT: “Maaf Bu, anak ibu harus pakai sabuk pengaman untuk balita.”
K: “Saya tahu itu, tapi dari tadi saya ga ada dikasi sabuk pengaman buat anak saya.”
PMT: “Ibu kan gak ada minta.”
Okay, mari kita ulangi kalimat di atas.
PMT: “Ibu kan gak minta.”
Ini orang, mau mancing aku ngamuk aja. Langsung aja aku menimpali,
A: “Oh jadi gitu? Kalo ga minta terus ga dikasi sabuk pengaman? Bukannya itu sudah tugas kamu buat melayani penumpang? Memangnya semua pramugari di penerbangan ini pada ga di-training ya?”
PMT: *buru-buru ambil sabuk pengaman buat keponakanku.*
Herannya ini orang udah bego masih juga sok tau.
PMT: “Ibu udah tau gimana cara memasangkan masker oksigen buat anak ibu?”
Kali ini karena udah kesal kakakku langsung jawab,
K: “Ya taulah!!!”
Langsung dia menyingkir. Bukannya bisa melayani dengan baik malah kasi pertanyaan yang bikin penumpang tambah kesal. Di dalam hati aku hampir ketawa karena kakakku sudah bekerja bertahun-tahun di berbagai perusahaan penerbangan dan pastinya jam travelling-nya sangat tinggi. Ditanyain masker oksigen pula. Level pengetahuan dan level melayani tidak sebanding dengan ketebalan make up mereka. Sorry not sorry, what a terrible service.
Aku, yang sudah kesal karena jeleknya semua koneksi penerbangan dan jeleknya service di hampir semua penerbangan, masih ngedumel dan nyeletuk pelan,
“Kenapa? Mau ngajak berantem, sini! Bokapku baru meninggal, gue bisa ngelakuin apa aja tahu!”
Salah satu pramugari yang lain ngelirik aku antara gak senang dan mungkin sedikit takut. Sewaktu dia ngelirik ke aku, langsung aja aku lihat dia balik. Apa?! Mau mulut lo ntar kujejalin masker oksigen? Sini, biar kutunjukkan gimana cara yang baik dan benar pakai masker oksigen! Udah, kerja aja lo sana yang bener!
Penerbangan itu mungkin isinya para cabin crew yang training-nya setengah jadi. Beberapa insiden lain juga terjadi ke penumpang lain. Aku yang sudah sempat terprovokasi cuma nyahut-nyahutin saja biar mereka pada kesel sama aku. Masa cuma aku yang mereka buat kesal? Ga dong, aku harus berbagi kekesalan.
Satu insiden lain juga terjadi di saat penerbangan lagi-lagi dilakukan pramugari full make up tadi, dia malah memindahkan salah satu tas penumpang ke compartment yang sangat jauh. Kebetulan tas itu milik seorang ibu asli Sumatera Utara yang ga segan teriak-teriak di dalam pesawat saat nyariin tasnya sambil ngomong,
“Eh saya naik pesawat tiap hari ya! Jangan seenaknya kamu mindahin tas saya ini Ini isinya duit, tahu!”
Dalam hati aku udah bersorak aja, “Iya Bu, marahin aja. Memang dia ga bisa kerja dan pesawat ini memang angkot di udara.”
Btw, si ibu ngapain juga kasi tahu isi tasnya coba. Ntar kalau dia dirampok seturunnya dari pesawat bisa jadi terduganya adalah salah satu penumpang di sini. Melihat si pramugari tadi dimarahi, aku bukannya prihatin malah makin asyik nyeletuk. Seru ternyata.
“Makanya, memang gak di-training sih. Mana gak bisa kerja, pada sok tahu lagi!”
Salah satu bapak yang jadi penumpang duduknya gak jauh dari aku (dan sebelumnya sempat ikutan kesal ke para cabin crew) cekikikan dengar aku nyeletuk. Asli para cabin crew di penerbangan itu bikin kesal banyak penumpang. Sumpah, seumur hidup ga pernah aku sejahat itu ke pramugari. Tapi memang banyak dari mereka kerjanya ga beres dan bikin kita semua naik darah.
Pesawat mendarat di Medan sebelum maghrib. Badanku udah lemas, capek dan kelelahan setelah sejumlah insiden di sana sini. Kami dijemput abang iparku. Aku melewati pemeriksaan imigrasi duluan, karena dua kakakku harus beli visa on arrival buat anak mereka. Aku masih juga menunggu bagasi kami semua di depan conveyor belt.
Note: PB: Petugas Bagasi, PM: Pegawai Maskapai, A: Aku
PB: “Habis, semuanya udah keluar!”
A: “Loh, Pak… bagasinya ga ada lagi?”
PB: “Gak, udah keluar semuanya kan tadi.”
A: “HAH???? Kami punya 3 koper lagi dari bandara di Zurich.”
PB: “Wah mbak harus tanya petugas maskapainya. Itu tuh orangnya.” *beliau lalu menunjuk seorang lelaki bertopi dan kacamata*
A: *memberondong si mas dengan sejumlah pertanyaan* “Mas, gimana nih? Bagasi kami dari Zurich masa ga sampe? Jadi dimana sekarang koper-koper kami?”
PM: “Begini mbak, kalo menurut saya bagasi mbak semua tertinggal di Kuala Lumpur.”
Makjang! Underwear gue di situ semua, monyet!!!
A: *lemesss..* “Jadi gimana dong?”
Akhirnya kami ke kantor maskapai tersebut dan untungnya si mas-baik-hati itu berhasil mencegat temannya yang kerja di Malaysia Airlines buat menginformasikan kasus ini. Temannya manggut-manggut dan setelah melakukan identifikasi koper dan segala macam, kami dijanjikan bakal dikabari secepat mungkin.
Kalian tahu kenapa bagasi bisa ketinggalan di Kuala Lumpur? Ini karena petugas KLM yang sok tau ngasi tag di koper: ZRH – AMS – KUL – MES. Tahu kan artinya? Artinya petugas KLM salah kasi tag dan salah kasi informasi bahwa bagasi sampe di Medan dengan sejahtera. Rasanya sudah kesal ga terkira. Selama perjalanan cuma dipenuhi oleh petugas airline dan cabin crew yang service-nya jelek dan pada sok tahu.
Kami pun pulang ke rumah dengan sedih dan kesal dan pastinya tanpa koper! Sesampainya di rumah, di sisi kanan kiri jalanan masih berdiri sejumlah karangan bunga. Orang-orang sudah mulai berdatangan buat tahlilan. Sewaktu kami sampai di bandara Polonia tadi, prosesi pemakaman baru saja selesai dilaksanakan. Kami ga bisa melihat Papa sebelum dimakamkan, persis sama kejadiannya dengan wafatnya Ibu. Mau berusaha secepat apapun, perjalanan dari Zurich udah makan waktu sekitar 20 jam.
Aku cuma bisa berdiri di sudut ruangan. Memandangi rumah yang rasanya makin terasa sepi. Saat itu air mataku rasanya tidak bisa berhenti mengalir.
paspor tulisan tangan?heh?aku ngga tau kalo ada yg gituan.:Pbtw,pramugari air asia emang ngga ramah smua. ngga bagus.
LikeLike
Helena Hotmonica >>iya, paspor keluaran kedutaan indonesia di luar negri memang kyk gt. ntar klo tinggal di luar negri pasti ngerasain dee haha..
LikeLike