Kelar explore Singapore selama empat hari, aku meneruskan perjalanan ke Hong Kong. Kali ini aku ga perlu khawatir soal salah pilih hotel karena bakal stay di apartemen abangku.
Hari 1
Singkat cerita terbang dari Singapore, aku transit di Kuala Lumpur. Selama ini aku sama sekali ga aware bahwa ada dua bandara KLIA yaitu KLIA1 yang melayani penerbangan internasional dan domestic serta ada KLIA2 yang berfokus ke penerbangan LCC (low-cost carriers). Penerbangan dari Singapore mendarat di KLIA2 dan sesaat keluar bandara ternyata penuh banget. Manusia berjubel ga bisa dibendung. Dorong sana sini, chaotic deh pokoknya. Setelah tingkat stressku mencapai titik jenuhnya, pesawat berangkat dan akhirnya sampai juga di Hong Kong.

Sesampainya di Hong Kong, abangku sudah menunggu di pintu kedatangan. Setelah melewati suasana penuh sesak manusia di KLIA2, melihat abangku menjemput di airport, aku serasa bertemu dengan seorang guru spritual. Di antara kelelahan dan kepala pusing, dalam hati aku bergumam, “Ternyata di Hong Kong banyak HSBC!” Ya iyalah, duh pake dibahas.
Hari 2
Bangun tidur dengan view pencangkar langit di lantai 38 dari kamar keponakanku memang bikin mata sedikit membesar. Bukan apa-apa, di Swiss mana ada pencangkar langit kayak di Hong Kong. Swiss memang punya strict regulations akan city planning termasuk regulasi pembatasan tinggi bangunan terhadap luas lahan di sekitar bangunan serta pembebanan biaya mahal untuk pembangunan gedung tinggi. Karena itu melihat skyscrapers sama sekali bukan pemandangan sehari-hari buatku.

Salah satu keunikan yang kutemukan di Hong Kong adalah situasi bagaimana masyarakat menjemur cucian di jemuran yang tingginya minta ampun. Kebanyakan jemuran itu dipasang di antara gedung-gedung tinggi apartemen yang kebanyakan berjarak sempit. Membayangkan jemuran terjatuh melayang entah kemana rasanya bikin perasaanku ga enak.



Hari ini diputuskan buat mengunjungi tugu penyerahan Hong Kong dari Inggris ke PRC. Tugu yang bernama “Forever Blooming Golden Bauhinia Sculpture” ini terletak di Golden Bauhinia Square. Terletak di daerah Wan Chai yang dipenuhi gedung perkantoran juga berbagai perusahaan retail dan pertokoan. Mungkin karena masih pagi jadi belum begitu banyak pengunjung. Cukup puas untuk capture beberapa foto, mengamati sebentar tugu yang berbentuk bunga Bauhinia berwarna emas yang mulai mekar.
Aku ditemani kedua keponakanku. Sebelum mengunjungi tugu, kami beli peta Hong Kong di sekitaran area Causeway Bay. Petualangan ke tugu pun dimulai. Baru mulai jalan keponakanku, Enzo, ngomong,
“Duh laper nih.”
Terima kasih Enzo, karena udah membuat liburan tante jadi makin berkesan! Belum juga sampai ke tugu dia udah protes laper. Tapi berhubung aku sayang keponakan (hah, kapan yah? haha) jadi Enzo dirayu bakalan makan sehabis ngeliat tugu. Kelar fotoin tugu aku tanya ke Enzo,
Aku : “Mau makan dimana, Enzo?”
Enzo : “McD.”
Okay, anak-anak di seluruh dunia memang punya jawaban sama. Ternyata setelah sampai di sana, jumlah makanan yang kulahap lebih banyak daripada Enzo hehe.
Hari 3
Hari ini hari Sabtu, ini berarti abangku punya waktu buat temani jalan-jalan. Rencananya kami mau ke Macau di hari Sabtu, rupanya abangku telat bangun. Sehabis mandi abangku ngomong,
Abangku: “Kok aku ga dibangunin?”
Aku: “Gak tega bangunin. Soalnya pasti masih capek.”
Batal ke Macau, kami buat plan B untuk jalan-jalan ke Giant Buddha. Aku sih terserah saja mau ke Macau atau Giant Buddha, yang penting jalan-jalan! Setelah naik kereta dan terkantuk-kantuk di bus selama 45 menit, kami sampai juga di Giant Buddha. Pengunjung lumayan ramai dan memang lumayan capek naik sejumlah anak tangga yang bejumlah 268 anak tangga. Di hari itu tiba-tiba aku jadi lebih sehat (baca: mau pingsan).
Balik dari Giant Budha aku lebih milih naik cable car, ujung-ujungnya aku malah nyesal. Anginnya kencang dan dingin, akibatnya cable car harus jalan lebih lambat sambil diayun-ayunin angin kesana kemari. Buat orang yang takut ketinggian, peristiwa ini beneran bikin takut.
Di dalam cable car ada sekitar tujuh orang termasuk aku. Iseng aku melihat-lihat interior cable car dan ada tulisan: SMILE! Aku ga ngerti apa maksud itu tulisan. Ketika cable car akhirnya sampai di tujuan, semua penumpang fokus melihat ke arah yang sama dan tiba-tiba ada cahaya blitz dari salah satu sudut. Astaga, ternyata di pemberhentian akhir ada kamera, pantasan ada tulisan Smile! Dua turis cowo yang duduk di dekatku kontan ngakak. Aku penasaran dengan hasil foto candid itu. Begitu ku lihat… gila, mukaku bego abis!



Sampai di apartemen sudah menjelang malam. tapi ini Sabtu malam dan aku ga mau cuma berdiam diri di apartemen. Daripada mati gaya aku keluar sekalian ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehidupan malam di Hong Kong. Halahh.. sok gaul.
Berbekal buku panduan tentang Hong Kong aku naik tram dengan acak, turun di stasiun yang namanya sudah kulupa. Jalan terus sambil lihat apa ada tempat asyik yang bisa disinggahi. Aku berjalan terus, di kanan kiri berjejer bar dengan para penarik tamu cewe pakai rok mini, sepatu boots, tank top ketat. Full pressed body. Lah kenapa jadi kayak mobil.
Aku baru sadar ternyata saat itu aku sedang di tengah-tengah red light district area. Dasar buku panduan yang menyesatkan. Lalu aku naik tram ke daerah Central. Ga di sangka di sana ada diselenggarakan sebuah festival. Gak peduli itu festival apa, aku ikuti saja iringan orang sorak sorai sewaktu sejumlah penari yang berpakaian ala karnaval di Brazil lewat. Hang out di sana sebentar dan ga sampai tengah malam aku sudah balik ke apartemen lagi. Kalo seandainya di Zurich mungkin aku bakal pulang jam 3 pagi. 😀
Hari 4 – Macau
Hari ini kami benaran ke Macau! Kali cuma dengan abangku aja. Naik tram kemudian naik ferry sejam, aku akhirnya nginjakin kaki di Macau. Aku baru sadar ternyata di Macau punya mata uang tersendiri, Macanese pataca (MOP). Mohon dimaklumi, nilai geografiku pas-pasan, tolong jangan gebukin saya.
Baru saja sampai di sana, orang-orang yang menyewakan jasa mobil untuk tour sudah nguberin penumpang ferry yang baru sampai. Aku lucu melihat tingkah mereka yang menguntit para turis kemana-mana sampai dapet harga yang cocok. Tadinya aku pingin ngetes buat jalan ke toilet, mau tahu mereka bakal ngikutin atau ga. Tapi berhubung takut abangku nimpukin aku pake buku panduan Macau, aku diam patuh aja. Setelah proses tawar menawar dan dapatin harga tour yang cocok, kami jalan mulai dari ngeliat patung Buddha, menara di Macau, mengunjungi Ruins of Saint Paul’s dan A-Ma Temple yang dibangun sejak tahun 1488, lalu belanja di pasar sampai mengunjungi kasino.

Di pasar abangku beli beberapa kotak kue buat oleh-oleh. Melihat abangku sibuk menenteng dua bungkusan besar begitu, aku jadi kasian.
Aku: “Sini Bang, biar aku bawa satu,” tiba-tiba berubah sok baik.
Abangku: “Oh iya, nih!”
Dia menyodorkan satu bungkusan ke aku. Habis itu aku nyesel, soalnya bungkusannya beneran berat.
Hal yang paling aku suka di Macau adalah Ruins of Saint Paul’s atau dalam bahasa Portugis Ruínas de São Paul. Reruntuhan gereja dari abad ke-17 ini yang cuma tinggal bagian depannya saja. Setelah puas jalan-jalan di sekitar reruntuhan gereja, kami mulai berjalan ke arah kasino. Salah satu kasino juga dibuka buat dikunjungi para turis. Melihat banyak orang lagi bertaruh di meja kasino begitu, aku serasa lagi syuting film serial ‘Las Vegas: Macau Version’. Dimana sih Josh Duhamel di saat aku membutuhkannya?





Di Macau benaran panas gila-gilaan, kulitku terasa terbakar mana lupa pake sunscreen lagi. Belum juga ke Bali, kulit sudah coklat habis-habisan. Menyusuri sebagian daerah di Macau yang dipenuhi dengan kasino, aku berpikir pasti majority dari income penduduknya berasal dari gaming industry, hospitality industry dan mungkin selebihnya public sector. Hidup memang berat (apaan sih, ga nyambung!).
Hal yang paling bikin aku sebal selama perjalanan dari dan ke Macau adalah orang-orang yang hebohnya gak karuan, misalnya:
1. Lagi ngantri mau boarding ke ferry, dorong sana sini.
2. Belum ada pengumuman boleh berdiri dari seat ferry, tapi sudah sibuk berdiri berkemas, padahal ferry masih juga masih goyah. Ujung-ujungnya mereka hampir terjatuh semua.
3. Nabrakin orang dan mijakin kaki tapi gak minta maaf. No manners!
4. Di counter imigrasi, sehabis dokumen mereka diperiksa petugas bukannya lanjut berjalan tapi kok malah berdiri di sebelah counter petugas imigrasi.
Kejadian paling lucu waktu balik dari Macau ke Hong Kong sewaktu antri di imigrasi. Salah satu lelaki dari China Mainland lagi diperiksa ma petugas. Tiba-tiba terdengar HUAAAAKKKKKKK.
Dia bersendawa. Keras. Keras banget!
Aku dan para turis lainnya yang kebetulan dari Eropa pada ngakak. Si pelaku tadi malah gak ngerasa kalo kami ngetawain dia. Okay, no comment! Sesampainya di Hong Kong kami makan malam di restoran Jepang dan nyempatin buat nonton ‘Symphony of Lights’. Setibanya di apartemen sehabis hari yang panjang, rasanya aku kayak baru melakukan kerja rodi.
Hari 5
Bisa dibilang hari ini hampir 24 jam aku berada di pasar! Siangnya di Stanley Market dan malamnya di Mong Kok Market. Di Stanley Market aku pingin beli artwork yang dijual di salah satu toko lukisan. Bukan lukisan sih, tapi replika gambar yang dibikin dari tinta/pena dan menggambarkan suasana Hong Kong yang penuh dan hiruk pikuk. Gambarnya unik dan ga biasa, pasti keren buat dipajang di apartemenku. Aku belanja pashmina juga beberapa tshirt di Stanley Market dan di Mong Kok Market kakak iparku bellin aku baju. Thank you, Kak.
Di siang hari aku jalan di outdoor escalator yang panjang banget. Nyempetin juga buat belanja dikit berhubung besok mau bertolak ke Malaysia. Malamnya aku ngunjungin ‘The Peak’. Menuju ‘The Peak’ harus naik tram dengan kemiringan 45 derajat. Buat fotoin pemandangan di atas butuh perjuangan karena anginnya kencang bener!
Berikutnya aku ke museum Madame Tussaud. Tadinya aku mau berfoto dengan patung Jackie Chan tapi salah satu pekerja langsung nawarin,
“Mau foto dengan patung Jackie Chan? Biar dipajang di sini.”
What?! Aku ga siap ngetop lewat jalur ini. Seleraku langsung hilang. Gak deh, makasih.
Begitu juga waktu mau berfoto dengan patung Johnny Depp. Ih ga bisa ya membiarkan orang berfoto dengan tenang? Ngeliat ada patung Pierce Brosnan, James Bond 007, aku ga sia-siakan buat berfoto. Dua cewe yang lagi ngunjungin ngeliat aku berpose gitu dan pada ngetawain tanpa tahu kalo patung itu patung James Bond. Begitu tahu, mereka jejeritan histeris dan malah ikutan foto juga. Makanya, liat dulu itu patung siapa.


Capek berfoto di sana aku naik tram lagi dan di tengah bunyi protes dari perut, aku singgah di salah satu restoran. Cewe pegawai di restoran itu ternyata sama sekali ga bisa bahasa Inggris, maka terjadilah suatu broken communication yang sukses jadi tontonan pengunjung restoran. Pulang dari restoran, aku balik ke apartemen lalu packing barang dan tidur.
wAH asyik ya bisa jalan2 ke luar negeri..lain kali kalo jalan2 ajak2 dong..heheheh.mana nih oleh-olehnya?
LikeLike
dwikjohn >>wah sorry ga bawa oleh2, liburan edisi terbatas seh hehe.
LikeLike